Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Pariwisata menyiapkan serangkaian strategi untuk menjaga kinerja sektor pariwisata nasional di tengah tekanan geopolitik global yang mulai mengganggu arus wisatawan mancanegara.
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri menyampaikan bahwa pembatasan wilayah udara di Timur Tengah imbas perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran yang berlangsung sejak akhir Februari 2026, telah memicu pembatalan ratusan penerbangan menuju Indonesia.
“Dalam periode 29 hari dari 28 Februari hingga 28 Maret 2026, tercatat 770 penerbangan dari enam titik asal seperti Abu Dhabi, Doha, Dubai, Jeddah, dan Muscat dibatalkan. Kondisi ini berpotensi menghilangkan 60.752 kunjungan wisatawan mancanegara serta devisa sebesar Rp2,04 triliun,” kata Widiyanti dalam rapat kerja Komisi VII DPR RI di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Menurutnya, kawasan Timur Tengah merupakan titik utama bagi wisatawan jarak jauh (long haul) dengan karakter belanja tinggi. Apabila kondisi ini berlangsung hingga akhir tahun, maka potensi kehilangan kunjungan wisman dapat menyentuh 1,44 juta hingga 1,68 juta, hingga potensi kehilangan devisa Rp48,3 triliun hingga Rp56,5 triliun.
Namun demikian, Widiyanti menyebut bahwa Kemenpar tetap mempertahankan target kunjungan wisatawan mancanegara sebesar 16 juta hingga 17,6 juta pada tahun ini.
Oleh karena itu, dia menyebut bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai penyesuaian strategi, terutama dengan mengalihkan fokus pasar secara bertahap.
Baca Juga
- Angkutan Lebaran 2026, 895 Wisatawan Asing Gunakan Kereta Api di Malang Raya
- Wisatawan Lebih Banyak ke Al-Jabbar Dibanding Pangandaran saat Libur Lebaran
- Wisatawan ke Bugis Waterpark Melonjak 250% saat Libur Lebaran
“Arah strategi yang telah disiapkan meliputi penguatan pasar short haul dan medium haul yang lebih resilien dan memiliki potensi tinggi,” ujarnya.
Widiyanti memerinci, pengalihan fokus pasar ini mencakup kawasan seperti Australia, Selandia Baru, Asia Timur, India, dan Filipina. Penambahan kapasitas kursi penerbangan diharapkan mencapai 2,84 juta kursi.
Berikutnya, guna menjaga konektivitas wisata jarak jauh, Kemenpar mendorong optimalisasi maskapai penerbangan non-Timur Tengah, khususnya dalam membuka dan menambah rute langsung dari Eropa dan Amerika.
Upaya lain, lanjut Widyanti, mencakup kampanye digital secara masif untuk mendorong permintaan perjalanan ke Indonesia, serta penyelenggaraan cross border events di wilayah perbatasan guna menarik wisatawan negara tetangga tanpa membebani kapasitas penerbangan.
“Dan juga penguatan promosi wisatawan Nusantara untuk menjaga perjalanan wisatawan nusantara dan tingkat hunian hotel,” ujarnya.
Kendati demikian, Widiyanti menilai keberhasilan strategi ini akan bergantung pada sinergi lintas kementerian dan lembaga. Hal ini terutama dalam menjaga keseimbangan antara sisi pasokan dan permintaan sektor pariwisata ke depan.




