Penulis: Agus M Hakim
TVRINews, Lampung
Warga Desa Kali Pasir, Kecamatan Way Bungur, masih menghadapi keterbatasan akses transportasi akibat terpisah oleh Sungai Batanghari.
Hingga kini, aktivitas penyeberangan menuju Desa Tanjung Tirto masih mengandalkan perahu kayu tambangan sebagai satu-satunya jalur tercepat.
Desa Kali Pasir dihuni sekitar 650 kepala keluarga atau kurang lebih 3.000 jiwa. Bagi warga, khususnya pelajar, pekerja, dan petani, jalur penyeberangan sungai menjadi akses utama untuk menuju pusat Kecamatan Way Bungur.
Namun, biaya penyeberangan dinilai cukup membebani. Warga harus membayar Rp10.000 untuk sekali perjalanan atau Rp20.000 pulang-pergi.
Di sisi lain, alternatif jalur darat bukan solusi ideal karena harus menempuh jarak hingga 17 kilometer dengan kondisi jalan yang rusak dan memakan waktu lebih lama.
Kondisi ini mendorong masyarakat untuk mengusulkan pembangunan jembatan sebagai solusi jangka panjang. Jembatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan mobilitas warga sekaligus menekan biaya transportasi harian.
Berdasarkan data yang dihimpun, Sungai Batanghari di wilayah tersebut memiliki lebar sekitar 100 meter dengan kedalaman mencapai 5 meter. Rencana pembangunan jembatan diperkirakan memiliki panjang sekitar 110 meter, dengan jenis jembatan gantung perintis.
Keberadaan jembatan dinilai akan memberikan manfaat signifikan, terutama dalam menunjang akses pendidikan bagi pelajar, memperlancar aktivitas ekonomi masyarakat, serta mempermudah akses menuju fasilitas kesehatan.
Masyarakat berharap pemerintah dapat segera merealisasikan pembangunan infrastruktur tersebut, mengingat urgensinya bagi kehidupan sehari-hari warga yang selama ini masih bergantung pada penyeberangan tradisional.
Editor: Redaktur TVRINews





