JAKARTA, KOMPAS.com - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat konflik Iran dengan AS-Israel mulai memunculkan dampak nyata bagi Indonesia.
Sejumlah sektor strategis, mulai dari harga energi, layanan ibadah haji, hingga pariwisata dan devisa negara, berpotensi terdampak akibat lonjakan harga minyak dunia serta gangguan jalur penerbangan internasional.
Di sektor energi, konflik Timur Tengah telah memicu kenaikan harga minyak mentah global hingga 52,21 persen, dari sebelumnya 67,02 dolar AS per barel menjadi 102,01 dolar AS per barel per 30 Maret 2026.
Kenaikan ini berpotensi memengaruhi harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri serta biaya transportasi udara melalui lonjakan harga avtur.
Dampak tersebut turut menjadi perhatian pemerintah dalam penyelenggaraan ibadah haji 2026.
Baca juga: Persiapan Haji 2026, Kemenhaj Siagakan 45 Klinik Kesehatan di Mekkah dan Madinah
Menteri Haji dan Umrah Mochammad Irfan Yusuf atau Gus Irfan memastikan pihaknya berupaya menekan potensi kenaikan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) meskipun biaya avtur berpotensi meningkat akibat lonjakan harga minyak.
“Insya Allah kita akan berusaha keras tidak perlu menambah biaya ke jemaah. Kita upayakan sumber-sumber lain yang mungkin masih bisa kita optimalkan nantinya,” ujar Gus Irfan di Menara Kompas, Jakarta, Selasa (31/3/2026).
Menurutnya, konflik Timur Tengah tidak hanya berdampak pada kenaikan harga avtur, tetapi juga berpotensi memicu perubahan jalur penerbangan menuju Arab Saudi demi memastikan keamanan jemaah.
Perubahan rute tersebut berpotensi menambah biaya operasional penerbangan.
Baca juga: Haji 2026, Kemenhaj Siapkan Skenario Mitigasi Hadapi Situasi Geopolitik di Timur Tengah
Meski demikian, pemerintah menegaskan keselamatan dan keamanan jemaah menjadi prioritas utama dalam pengambilan kebijakan.
Saat ini, Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak juga tengah berada di Arab Saudi guna memastikan kelancaran penyelenggaraan ibadah haji 1447 Hijriah.
"Seperti amanat Presiden bahwa keselamatan dan keamanan jemaah haji menjadi prioritas utama. Karena itu kita melakukan mitigasi berbagai kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi," ujar Gus Irfan.
Potensi Kehilangan WisatawanSementara itu, sektor pariwisata juga menghadapi tekanan akibat penutupan wilayah udara Iran yang berdampak pada pembatalan ratusan penerbangan menuju Indonesia.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengungkapkan, sejak 28 Februari hingga 28 Maret 2026, terdapat 770 penerbangan dari enam kota di Timur Tengah yang batal beroperasi, yakni Abu Dhabi, Doha, Dubai, Jeddah, Madinah, dan Muskat.
"Secara total, terdapat 770 penerbangan dibatalkan dengan potensi kehilangan 60.752 kunjungan wisatawan mancanegara dan Rp 2,04 triliun devisa," kata Widiyanti, dalam rapat Komisi VII DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Baca juga: KPK: Ketum Kesthuri Ada di Luar Negeri Tak Ganggu Penyidikan Kasus Kuota Haji





