Saham Konglomerat Unjuk Gigi Lagi, Masih Jauh dari ATH Jelang FTSE dan MSCI

idxchannel.com
10 jam lalu
Cover Berita

Saham-saham konglomerat menggeliat pada Rabu (1/4/2026) seiring pemulihan sentimen geopolitik global terkait sinyal deeskalasi konflik Timur Tengah.

Saham Konglomerat Unjuk Gigi Lagi, Masih Jauh dari ATH Jelang FTSE dan MSCI. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Saham-saham konglomerat menggeliat pada Rabu (1/4/2026) seiring pemulihan sentimen geopolitik global terkait sinyal deeskalasi konflik Timur Tengah.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut rebound 1,93 persen ke level 7.184,44 dan menghentikan penurunan empat hari beruntun, mencerminkan meningkatnya selera risiko pelaku pasar di tengah reli bursa Asia.

Baca Juga:
Harga Avtur Melonjak 70 Persen, INACA Minta Pemerintah Sesuaikan Tarif Batas Atas Tiket Pesawat

Penguatan ini terjadi di tengah harapan meredanya konflik Timur Tengah dalam jangka pendek, meski pemulihan dinilai belum sepenuhnya solid karena investor masih menunggu berakhirnya perang secara menyeluruh serta kepastian pengumuman FTSE dan MSCI dalam waktu dekat.

Sejumlah saham konglomerat mencatat kenaikan tajam pada perdagangan Rabu (1/4/2026), dipimpin oleh Grup Bakrie.

Baca Juga:
Wall Street Ditutup Menguat Usai Trump Beri Sinyal Akhiri Perang Timur Tengah

Saham PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) naik 17,27 persen ke Rp815 per unit, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) melonjak 15,83 persen ke Rp505, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menguat 10,19 persen ke Rp238, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) naik 9,62 persen ke Rp114, serta PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) naik 6,85 persen ke Rp780.

PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga bergerak positif.

Baca Juga:
Saham KRYA Anjlok 65 Persen di Tengah Aksi Jual Pengendali

Penguatan juga terjadi pada Grup Barito milik Prajogo Pangestu, di mana PT Barito Pacific Tbk (BRPT) naik 6,96 persen ke Rp1.460, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) naik 6,60 persen ke Rp1.130, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) naik 6,21 persen ke Rp855.

Kemudian, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Petrosea Tbk (PTRO) turut menguat, sementara PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) terkoreksi.

Saham milik Hapsoro juga ikut naik, seperti PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) yang menguat 6,70 persen ke Rp5.175, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), serta PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) yang bergerak positif.

Dari Grup Salim, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) yang dikembangkan bersama Agung Sedayu Group serta PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) turut menguat, sementara Grup Sinarmas melalui PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga bergerak positif.

Saham milik Haji Isam seperti PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) naik 5,43 persen ke Rp2.040, sementara PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) bergerak variatif. PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) milik Hashim Djojohadikusumo naik 6,10 persen ke Rp2.260.

Tidak ketinggalan, konsorsium Garibaldi ‘Boy’ Thohir melalui PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) juga ikut menjadi perhatian pasar.

Meski menguat, mayoritas saham konglomerat masih berada jauh di bawah level tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH).

BNBR masih sekitar 98,48 persen di bawah ATH, BUMI 97,07 persen, dan ENRG 86,48 persen. JARR tercatat masih 78,75 persen di bawah ATH dan PGUN 71,46 persen.

Sementara itu, saham Grup Barito seperti BRPT masih 67,77 persen di bawah ATH, PTRO 64,54 persen, CDIA 65,10 persen, dan TPIA 59,11 persen.

CUAN, RATU, dan PANI juga masih berada di kisaran 59-60 persen di bawah puncaknya, sementara AADI menjadi yang paling dekat dengan ATH, hanya sekitar 9,96 persen di bawah level tertinggi.

Perlu dicatat, level ATH BNBR, BUMI, dan ENRG berasal dari periode sebelum krisis finansial global 2008 saat saham-saham Grup Bakrie sempat melesat tinggi sebelum akhirnya rontok akibat tekanan krisis dan restrukturisasi utang.

Kini, BUMI dan BRMS dikendalikan bersama oleh Grup Bakrie dan Grup Salim.

BRI Danareksa Sekuritas menilai penguatan IHSG pada Rabu (1/4) sejalan dengan reli mayoritas bursa Asia yang mencerminkan perubahan cepat menuju mode risk-on di pasar global.

Deeskalasi Timur Tengah menjadi katalis utama setelah pasar merespons positif sinyal diplomatik Iran dan potensi penarikan pasukan Amerika Serikat dalam beberapa minggu ke depan.

BRI Danareksa menyebut rally saat ini masih bersifat sentiment-driven dan liquidity-driven, sehingga keberlanjutannya sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan arus dana asing.

Di sisi lain, pasar saham Indonesia kini berada dalam fase penentuan menjelang pengumuman FTSE dan MSCI pada April-Mei 2026.

Pengumuman dari lembaga pengelola indeks global MSCI terkait investabilitas Indonesia di awal 2026 sempat mengguncang pasar keuangan domestik dan memicu kekhawatiran arus keluar dana asing dalam jumlah besar.

Dalam laporan Global Investment Strategy - March 2026, JP Morgan menyebut pasar saham Indonesia mengalami awal tahun yang bergejolak setelah pengumuman MSCI tersebut.

IHSG tercatat mengalami penurunan sekitar 21 persen dari level tertinggi sepanjang masa hingga 30 Maret 2026, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi penurunan status pasar Indonesia dan risiko keluarnya dana asing dalam skala besar.

Pengamat pasar modal Michael Yeoh mengatakan regulator pasar modal saat ini bergerak cepat untuk memastikan Indonesia tetap berada dalam kategori emerging market.

“Kita lihat regulator baik dari OJK maupun BEI amat proaktif dalam memfinalkan proposal ke MSCI,” ujar Michael, Rabu (1/4/2026).

Menurutnya, pada 7 April FTSE akan merilis country classification yang dapat menjadi sinyal awal arah keputusan MSCI terhadap status Indonesia di indeks global.

BRI Danareksa menjelaskan Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah melakukan diskusi intensif dengan MSCI untuk mempercepat reformasi pasar, terutama terkait transparansi beneficial owner, peningkatan likuiditas, dan free float saham.

BEI menargetkan seluruh proposal kepada MSCI dapat rampung dalam pekan ini, termasuk penurunan batas keterbukaan kepemilikan saham menjadi di atas 1 persen serta peningkatan minimum free float menjadi 15 persen secara bertahap hingga 2028-2029. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin Raih Doktor Honoris Causa dari KMOU, Tegaskan Laut sebagai Pemersatu Peradaban
• 11 jam lalupantau.com
thumb
Buronan Interpol Paling Dicari Asal Skotlandia Ditangkap di Bali
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Peringatan Tsunami Berakhir, BMKG Pantau Kenaikan Muka Air di Beberapa Wilayah
• 4 jam laludisway.id
thumb
Eks Sekretaris MA Nurhadi Divonis 5 Tahun Bui di Kasus Gratifikasi-TPPU
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Terpopuler: Mimpi Buruk Timnas Italia Berlanjut, Semuanya Gara-gara Juventus, Atletik Indonesia Menggila
• 13 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.