Bisnis.com, DENPASAR – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Bali mengalami inflasi 2,81% (year-on-year/yoy) yang disebabkan oleh naiknya harga sejumlah komoditas penting.
Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan menjelaskan terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 106,94 pada Maret 2025 menjadi 112,02 pada Maret 2026.
Sementara itu, tingkat inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) Maret 2026 tercatat inflasi sebesar 0,91%, sedangkan inflasi bulanan (month-to-month/mtm) tercatat inflasi sebesar 0,56%.
Inflasi tahunan (yoy) terjadi karena naiknya harga komoditas-komoditas amatan yang ditunjukkan oleh naiknya IHK pada sepuluh kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau naik sebesar 2,33%, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,34%, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 7,99%, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,92%.
Kelompok kesehatan sebesar 1,44%, kelompok transportasi sebesar 1,74%, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,24%, kelompok pendidikan sebesar 3,09%, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,59%, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 4,05%.
Sementara itu, satu kelompok tercatat mengalami penurunan indeks, yaitu kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya turun sebesar 0,38%.
Baca Juga
- Proyek Hilirisasi Peternakan di NTB Diminati Investor
- Pemprov NTB Kembali Buka Keran Investasi di Bandar Kayangan dan Kereta Gantung Rinjani
- Penumpang Bandara Ngurah Rai Tembus 1,14 Juta selama Mudik Lebaran 2026
Pada Maret 2026, kelompok pengeluaran yang memberikan andil/sumbangan inflasi (yoy) yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,75%, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,02%, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,03%, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,04%, kelompok kesehatan sebesar 0,04%, kelompok transportasi sebesar 0,19%, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,01%, kelompok pendidikan sebesar 0,21%.
Kemudian kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,15%, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,38%.
Sedangkan kelompok yang memberikan sumbangan deflasi (yoy), yaitu kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,01%.
"Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi (yoy) pada Maret 2026 antara lain tarif listrik, daging ayam ras, emas perhiasan, sewa rumah, beras, Sekolah Menengah Atas, pemeliharaan/service, Sigaret Putih Mesin (SPM), Sigaret Kretek Mesin (SKM), bawang merah, tarif air minum PAM, ikan tongkol diawetkan, tarif parkir, ikan tongkol/ikan ambu-ambu, bimbingan belajar, mobil, Sigaret Kretek Tangan (SKT), angkutan udara, iuran pembuangan sampah, dan upah asisten rumah tangga," kata Hendrayana dalam keterangan pers, Rabu (1/4/2026).
Sementara itu, komoditas yang memberikan sumbangan deflasi, antara lain cabai merah, cabai rawit, daging babi, bawang putih, bensin, bayam, wortel, shampo, sabun cair/cuci piring, baju kebaya, pembalut wanita, kangkung, telepon seluler, buku tulis bergaris, tempe, celana pendek pria, kentang, mainan anak, tisu basah, dan pisang.
Hendrayana juga menjelaskan komoditas yang dominan memberikan andil inflasi secara bulanan pada bulan Maret 2026 antara lain cabai rawit, bensin, tarif air minum PAM, canang sari, cabai merah, daging babi, angkutan antar kota, tomat, buncis, Sigaret Putih Mesin (SPM), daging ayam ras, ikan tongkol/ ikan ambu-ambu, kol putih/kubis, iuran pembuangan sampah, jeruk, ikan teri, labu siam/jipang, laptop/notebook, mobil, bayam.
"Sementara itu, komoditas yang menahan laju inflasi (mtm) dengan memberikan sumbangan deflasi antara lain tarif angkutan udara, emas perhiasan, bawang putih, beras, kangkung, celana pendek pria, kacang tanah, dan angkutan laut," ujar Hendrayana.





