Proyek Gudang dan Silo Bulog Rp5 Triliun Masih Menanti Lampu Hijau

bisnis.com
11 jam lalu
Cover Berita

Bisnis, JAKARTA — Perum Bulog mempercepat persiapan pembangunan 100 titik infrastruktur pascapanen senilai Rp5 triliun, tetapi realisasinya masih bergantung pada hasil studi kelayakan hingga persetujuan Kementerian Koordinator Bidang Pangan.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan perseroan tengah menindaklanjuti penugasan setelah terbitnya regulasi terbaru, dengan fokus utama pada penyusunan studi kelayakan secara komprehensif.

Kajian tersebut mencakup aspek teknis dan finansial, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan seperti perguruan tinggi dan lembaga riset untuk memastikan proyek berjalan optimal.

Selain itu, Bulog juga berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian guna memperoleh pertimbangan teknis terkait pembangunan gudang dan infrastruktur pascapanen yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah.

“Semua gudang Bulog ataupun infrastruktur pascapanen dibangun berdasarkan saran pertimbangan teknis dari Kementerian Pertanian sesuai tipologi wilayah masing-masing,” ujarnya.

Perseroan juga menunggu hasil evaluasi dari Kementerian BUMN terkait kelayakan finansial dan rekomendasi penggunaan dana investasi pemerintah nonpermanen sebelum proyek dilaporkan untuk mendapat persetujuan akhir.

Baca Juga

  • Duh! Produksi Beras RI Berisiko Turun 0,38 Juta Ton hingga Mei 2026
  • Nasib Surplus Dagang RI Dibayangi Konflik Timur Tengah
  • Gejolak Timur Tengah Berisiko Hapus 60.000 Kunjungan Wisman

Secara teknis, penentuan lokasi pembangunan akan mempertimbangkan sejumlah parameter, antara lain kondisi tanah melalui uji kelayakan, kemiringan lahan maksimal 3–5 derajat, serta akses jalan yang memadai untuk kendaraan logistik berkapasitas besar.

BULOG menargetkan pembangunan gudang dengan kapasitas bervariasi mulai dari 1.000 ton hingga 3.500 ton, dengan pendekatan berbeda antara wilayah sentra produksi dan daerah terluar.

Untuk wilayah kepulauan terdepan seperti Natuna dan Rote, pembangunan difokuskan pada gudang penyimpanan guna menjaga ketersediaan pangan di tengah kendala distribusi akibat cuaca ekstrem.

Sementara itu, di daerah sentra produksi seperti Lampung, Jawa, dan Sulawesi Selatan, fasilitas akan dilengkapi dengan infrastruktur tambahan seperti pengering, rice milling unit, hingga silo untuk meningkatkan efisiensi pascapanen.

Secara keseluruhan, proyek ini mencakup pembangunan 94 unit gudang, 6 unit silo gabah, dan 8 unit silo jagung, serta fasilitas pendukung seperti dryer, unit penggilingan, dan sentra pengolahan beras.

Ahmad Rizal menambahkan bahwa sebagian fasilitas akan didorong menuju mekanisasi dan otomatisasi guna meningkatkan efisiensi, dengan target mendekati standar industri modern.

“Harapannya punya negara juga tidak kalah dengan punya swasta,” ujarnya.

Adapun perincian total anggaran proyek mencapai Rp5 triliun, dengan sekitar Rp4,4 triliun dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur utama dan Rp560 miliar untuk mekanisasi, otomatisasi, serta sistem teknologi informasi.

Pembangunan akan dilaksanakan oleh BUMN Karya sesuai penugasan pemerintah, dengan lokasi tersebar di 92 kabupaten. Namun, jadwal realisasi masih menunggu keputusan final dari Kemenko Pangan setelah seluruh tahapan persiapan rampung.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dana Desa Diminta Ikut Biayai Penanganan TBC, Mungkinkah?
• 1 jam lalukompas.id
thumb
Dude Harlino Ditanya 32 Pertanyaan Terkait Kasus PT DSI
• 39 menit lalukumparan.com
thumb
Update Gempa Sulut-Malut, BNPB: 1 Korban Meninggal, Gedung KONI di Manado Rusak Berat
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Warga di Gresik, Keluhkan Bansos yang Dinilai Tak Tepat Sasaran
• 2 jam lalurealita.co
thumb
Gempa Bumi M7,6 Guncang Bitung Sulut, BMKG: Berpotensi Tsunami!
• 13 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.