Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah ke posisi Rp16.985 pada perdagangan hari ini, Kamis (2/4/2026). Di sisi lain, pergerakan greenback mengalami apresiasi.
Rupiah dibuka melemah tipis 2 poin atau 0,01% ke Rp16.985 per dolar AS. Adapun, indeks dolar AS menguat 0,24% ke 99,89.
Sementara itu, mayoritas mata uang di Asia dibuka melemah. yen Jepang terdepresiasi 0,30% bersama won Korea sebesar 0,51%. Yuan China dan baht Thailand masing-masing juga melemah 0,13% dan 0,37% terhadap dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi rupiah akan ditutup melemah di rentang Rp16.980 hingga Rp17.020 per dolar AS pada hari ini.
Pada perdagangan sebelumnya, Rabu (1/4), rupiah sebenarnya ditutup menguat 58 poin ke level Rp16.983 dari penutupan hari sebelumnya di Rp17.041.
Dari sisi internal, pasar tengah mencermati data Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur Indonesia yang merosot tajam ke level 50,1 pada Maret 2026, dari bulan sebelumnya di angka 53,8. Meski masih berada di zona ekspansi, penurunan output ini tercatat yang paling tajam dalam sembilan bulan terakhir.
"Penurunan tersebut mencerminkan kelangkaan pasokan bahan baku dan kenaikan harga material yang dipengaruhi oleh perang di Timur Tengah serta gejolak ekonomi global," ujar Ibrahim dalam keterangan resminya.
Namun, pelemahan rupiah sedikit tertahan oleh kabar positif dari Badan Pusat Statistik (BPS). Hal tersebut dikarenakan neraca perdagangan Indonesia per Februari 2026 tercatat mengalami surplus sebesar US$1,27 miliar, menandai tren surplus selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Surplus ditopang oleh ekspor komoditas nonmigas seperti lemak dan minyak hewani nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Realisasi ekspor pada Februari mencapai US$22,17 miliar atau naik 1,01% secara tahunan.
Sementara dari faktor eksternal, indeks dolar AS melemah tipis setelah rilis data pasar tenaga kerja AS (JOLTS) yang menunjukkan pelemahan dengan lowongan kerja turun menjadi 6,88 juta pada Februari. Kendati demikian, harapan pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini mulai sirna.
“Ekspektasi pemangkasan suku bunga pada 2026 menghilang karena pelaku pasar mempertimbangkan risiko harga energi yang tetap tinggi akibat konflik di Selat Hormuz,” pungkas Ibrahim.
Di sisi geopolitik, sinyal diplomatik dari Donald Trump dan Masoud Pezeshkian mengenai kemungkinan gencatan senjata sempat memberikan harapan. Namun, pasar tetap waspada karena lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz masih terganggu, yang memicu tekanan kenaikan harga komoditas global.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





