KOMPAS.com - Kenapa warung Madura bisa buka 24 jam? Kapan mereka istirahat? Pertanyaan ini kerap muncul, terutama bagi mereka yang terbiasa melihat warung tersebut tetap buka saat sebagian besar toko sudah tutup.
Di kawasan Kukusan, Beji, hingga Depok Baru, Kota Depok, Jawa Barat, pemandangan itu bukan hal aneh.
Warung Madura berdiri dengan lampu neon terang, rak penuh barang, dan pintu yang selalu terbuka, bahkan saat dini hari.
Di wilayah yang dikelilingi kampus dan indekos, warung ini bukan sekadar tempat belanja, melainkan bagian dari ritme hidup kota yang nyaris tanpa jeda.
Baca juga: Di Balik Warung Madura 24 Jam: Tempat Usaha Sekaligus Rumah di Ruang Sempit
Kenapa Warung Madura Bisa Buka 24 Jam?Bagi Izmi (38), pemilik warung Madura di Kukusan, keputusan membuka warung selama 24 jam bukan rencana awal, melainkan hasil membaca kebiasaan pelanggan.
“Awalnya saya buka sampai malam saja. Tapi lama-lama pelanggan datang tengah malam, bahkan jam 02.00 WIB masih ada,” ujar Izmi saat ditemui, Selasa (31/3/2026).
Lingkungan sekitar yang dekat kampus membuat aktivitas malam tetap hidup. Mahasiswa yang begadang, pengemudi ojek online, hingga warga yang ronda menjadi pelanggan tetap.
Melihat pola itu, Izmi akhirnya mengubah jam operasional menjadi 24 jam sejak 2016. Ia menyadari, menutup warung berarti membuka peluang pelanggan beralih ke tempat lain.
“Kalau tutup, mereka bisa pindah ke tempat lain. Sekali pindah, belum tentu balik lagi,” katanya.
Selain faktor kebutuhan pasar, ada juga unsur kebiasaan yang terbentuk. Banyak warung lain melakukan hal serupa, sehingga buka 24 jam menjadi semacam “standar tidak tertulis”.
Baca juga: “Bukan Hak Saya, Maka Saya Kembalikan”: Saat Warga Tinggalkan Lahan Makam di Jakbar
Ritme Warung yang Mengikuti Pola Hidup Warga KotaBerbeda dengan toko pada umumnya, warung Madura memiliki siklus aktivitas yang hampir tanpa jeda.
Pagi hari dimulai sekitar pukul 06.00 WIB, saat pekerja membeli kopi, rokok, atau sarapan cepat. Siang hingga sore menjadi waktu paling ramai, didominasi mahasiswa dan warga sekitar.
Malam hari, arus pembeli kembali meningkat seiring kepulangan pekerja. Namun, keunikan justru terlihat setelah pukul 22.00 WIB.
Ketika banyak toko tutup, warung Madura tetap melayani pelanggan “malam”, mulai dari mahasiswa hingga pengemudi ojek online.
“Jam 01.00 atau 02.00 WIB itu masih ada saja yang datang. Kadang 5 sampai 7 orang,” kata Izmi.





