Bagi kita yang tumbuh besar di garis khatulistiwa, waktu adalah sebuah kepastian yang kaku. Matahari terbit dan terbenam pada jam yang hampir selalu sama sepanjang tahun. Namun, di Inggris Raya, waktu ternyata bisa menjadi variabel yang elastis, yang ditentukan bukan hanya oleh rotasi bumi, melainkan oleh keputusan politik dan sejarah panjang efisiensi energi.
Malam ini, tepat pada Minggu terakhir bulan Maret, saya menyaksikan sebuah fenomena "ajaib" di layar ponsel saya. Saat jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari, sedetik kemudian angka itu melompat menjadi pukul 02.00. Inggris secara resmi memulai British Summer Time (BST) melalui mekanisme global yang dikenal sebagai Daylight Saving Time (DST). Kita baru saja "kehilangan" satu jam waktu tidur dalam semalam karena otoritas negara.
Warisan Perang dan EfisiensiPraktik memajukan jam satu jam lebih awal ini bukanlah tanpa alasan. Sejarah mencatat bahwa kebijakan ini berakar dari upaya penghematan energi selama Perang Dunia I pada tahun 1916. Logikanya sederhana namun ambisius: dengan memajukan jam, orang-orang mendapatkan cahaya matahari sore yang lebih panjang, sehingga mengurangi penggunaan lampu dan menghemat batu bara untuk keperluan perang.
Inggris tidak sendirian dalam "permainan waktu" ini. Hampir seluruh negara di Uni Eropa, mulai dari Prancis hingga Italia, melakukan pergeseran serupa secara serentak. Di belahan bumi lain, Amerika Serikat dan Kanada juga menerapkannya, begitu pula sebagian wilayah Australia dan Selandia Baru saat musim panas mereka tiba. Bagi mahasiswa internasional, ini adalah peta birokrasi waktu yang rumit namun harus dipahami jika ingin tetap sinkron dengan jadwal global.
Dilema di Pintu KuliahBagi saya sebagai mahasiswa internasional dari Indonesia yang sedang menempuh studi di Leeds, pergeseran ini menghadirkan culture shock yang unik. Adaptasi di perantauan ternyata bukan hanya soal menyesuaikan lidah dengan makanan lokal atau telinga dengan aksen Yorkshire yang kental, melainkan juga berkompromi dengan jam biologis.
Di satu sisi, datangnya DST adalah sebuah harapan. Setelah melewati musim dingin yang suram—di mana kegelapan sudah turun pada pukul empat sore—sore hari yang lebih terang memberikan suntikan energi psikologis. Namun, ada harga yang harus dibayar. Pagi hari kembali terasa lebih gelap dan dingin saat saya harus bergegas menuju kampus University of Leeds.
Bagi seorang mahasiswa yang mendalami bidang criminal justice, saya melihat perdebatan ini tidak hanya soal kenyamanan tidur. Ada diskusi menarik mengenai kaitan antara sore yang lebih terang dengan penurunan angka kriminalitas jalanan—sebuah bentuk situational crime prevention yang tidak sengaja tercipta karena cahaya alami matahari yang tersedia lebih lama saat orang-orang pulang beraktivitas.
Sebuah Kontradiksi ModernMeski begitu, relevansi kebijakan ini terus digugat. Banyak ahli kesehatan memperingatkan gangguan ritme sirkadian yang bisa memicu risiko kesehatan jangka pendek. Bahkan, efisiensi energi yang dulu menjadi alasan utama kini mulai diragukan keakuratannya di era penggunaan listrik modern yang konstan.
Di tengah perdebatan para politisi dan ilmuwan dunia, bagi mahasiswa perantau seperti saya, pergantian jam ini adalah pengingat kuat tentang hakikat adaptasi. Menjadi pelajar internasional berarti harus siap "mencuri" atau "memberi" waktu kepada negara tempat kita menimba ilmu.
Kini, musim panas di Inggris telah resmi dimulai. Bukan ditandai dengan suhu udara yang tiba-tiba hangat—karena angin dingin sering kali masih menusuk—melainkan melalui keputusan kolektif untuk memajukan jarum jam. Selamat datang di musim di mana matahari enggan pulang, dan kami, para perantau, belajar memaknai waktu dengan cara yang berbeda.





