BEKASI, KOMPAS.com - Kebakaran Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) di Cimuning, Mustika Jaya, Kota Bekasi, pada Rabu (1/4/2026) malam, nyaris berubah menjadi bencana yang jauh lebih besar.
Di tengah kobaran api yang melalap sekitar 2.000 meter persegi lahan, terdapat satu titik yang paling dikhawatirkan petugas, yakni tangki elpiji berkapasitas sekitar 50.000 kilogram atau 50 ton.
Jika tangki itu ikut terbakar, dampaknya diperkirakan tidak hanya menghancurkan area SPBE, tetapi juga permukiman warga yang berada sangat dekat dengan lokasi.
“Di belakang ada tangki elpiji sekitar 50.000 kilogram. Alhamdulillah bisa kita amankan. Kalau sampai terbakar, itu paling berbahaya,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bekasi, Heryanto, Kamis (2/4/2026).
Baca juga: Kebakaran SPBE Cimuning Bekasi Diduga akibat Kebocoran Gas, Satu Tangki Hangus
Jarak Sangat Dekat dari Permukiman
Risiko kebakaran menjadi semakin tinggi karena lokasi SPBE berada di tengah kawasan padat penduduk.
Berdasarkan pantauan di lapangan, puluhan rumah warga berdiri tepat di seberang jalan, dengan jarak hanya sekitar satu meter dari area SPBE.
Ketika api membesar dan sempat disertai ledakan, dampaknya langsung terasa ke permukiman.
Atap rumah warga beterbangan hingga ke badan jalan, sementara dinding bangunan menghitam akibat paparan panas.
“Di belakang ada rumah, di samping juga ada rumah,” kata Heryanto.
Sebanyak 14 rumah dilaporkan terdampak dalam peristiwa tersebut, selain sejumlah toko di sekitar lokasi.
Baca juga: Pertamina Tanggung Biaya Korban dan Warga Terdampak Kebakaran SPBE Cimuning Bekasi
Ledakan Terjadi Saat Pengisian Gas
Kebakaran diduga bermula dari arus pendek listrik di dalam area SPBE.
Namun, situasi menjadi lebih berbahaya karena insiden terjadi saat aktivitas pengisian gas sedang berlangsung.
Satu kali ledakan sempat terjadi sebelum api membesar dan menyebar ke seluruh area.
Kondisi ini membuat proses penanganan menjadi jauh lebih kompleks dibanding kebakaran biasa.