BMKG resmi mengakhiri peringatan dini tsunami usai gempa 7,6 magnitudo yang mengguncang Sulawesi Utara dan Maluku Utara, Kamis (2/4).
Meski begitu, mereka masih akan melakukan pemantauan, termasuk memasang portable seismograph untuk memantau aktivitas gempa-gempa susulan yang berkemungkinan terjadi.
"Tentunya kami akan memasang portable seismograph untuk di sekitar Maluku Utara dan Ternate. Nanti kita koordinasikan dengan UPT setempat dan gimana nanti tentunya catatan-catatan gempa-gempa mikro ini, meskipun gempanya mungkin tidak berdampak serius, tapi menjadi sangat penting untuk seberapa lama nantinya gempa susulan akan berakhir," ujar Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, dalam jumpa pers secara daring, Kamis (2/4).
Portabel seismograf merupakan alat praktis yang mudah dipindahkan untuk merekam getaran gelombang seismik di lapangan. Kegunaan utamanya meliputi survei gempabumi, pemantauan aktivitas gunung berapi, studi struktur geologi atau kerak bumi, serta eksplorasi sumber daya alam seperti minyak, gas, dan mineral secara portabel.
"Jadi akan kami menyiapkan tim untuk diantaranya melakukan pemetaan makroseismik maupun mikroseismik. Makroseismik sebaran kerusakan ada di mana saja, mikroseismik untuk memonitor gempa-gempa susulan," sambungnya.
BMKG masih akan terus memonitor aktivitas gempa susulan untuk disampaikan ke publik.
"Karena ini masih cukup baru berapa jam, tentunya kami terus melakukan monitoring dan updating informasi ke media nanti. Selalu update untuk menyampaikan gempa-gempa susulan kemudian," ungkapnya.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 mengguncang wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara pada Kamis (2/4) pukul 05.48 WITA.
Guncangan kuat dirasakan di sejumlah wilayah, termasuk Kota Manado, yang menyebabkan kepanikan warga serta kerusakan pada beberapa bangunan, di antaranya gereja dan Gedung KONI Manado.
Laporan awal menyebutkan satu orang meninggal dunia setelah tertimpa reruntuhan di Gedung KONI Manado.
Humas Badan SAR Nasional (Basarnas) Sulawesi Utara, Nuraidin Gumeleng, menyebutkan identitas korban.
"Korban atas nama Deice Lahia (perempuan), 70 tahun, warga Tateli, Kabupaten Minahasa," ujar Nuraidin.
Deice Lahia merupakan kakak dari mantan petinju Sulut, Ilham Lahia. Keluarga ini berwirausaha di sekitar gedung KONI tersebut.





