JAKARTA, KOMPAS.com — Warga di sekitar Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) Cimuning, Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat, mengaku kebocoran gas telah terjadi sejak Rabu (1/4/2026) sore, beberapa jam sebelum ledakan dan kebakaran terjadi pada malam hari.
Informasi tersebut disampaikan Ningsih (30), salah satu korban kebakaran sekaligus karyawan SPBE Cimuning. Ia menjelaskan, kebocoran gas sempat ditangani oleh tim teknisi dalam kurun waktu satu hingga dua jam.
"Kejadiannya bocor pukul 15.00 atau pukul 16.00, ada laporan dari karyawan, dibenerin, mungkin masih kerja, dilanjutin. Aku sih enggak tahu ya selesainya jam berapa. Pas kejadiannya (kebakaran) itu kan mungkin posisinya juga habis diisi," kata Ningsih saat ditemui di lokasi kejasian, Kamis (2/4/2026).
Baca juga: Kesaksian Warga soal Ledakan SPBE Cimuning: Cium Bau Gas, Motor Melintas, lalu Meledak
Ia menuturkan, kebocoran gas baru dua kali terjadi selama ia tinggal 18 tahun di dekat SPBE Cimuning.
"Aku dengar sih pernah sekali, cuma aman. cuman ini lebih yang enggak menyangkanya saja. Ini lebih besar dampaknya," tuturnya.
Ningsih memastikan, sebelum ledakan dan kebakaran terjadi pada malam hari, seluruh karyawan yang berada di lokasi sudah menjauhi area.
"Sudah keluar semua (karyawan). Mungkin jam 18.00 atau jam 19.00 WIB. Kalau mobil tangkinya isinya itu jam 20.00 WIB. Nah uapnya itu mungkin ada setengah jam baru keluar semua, warga baru keluaran semua gitu udah panik semua (setelah pemberitahuan gas bocor)," ungkapnya.
Sebelumnya, kebakaran yang melanda SPBE Cimuning di Mustikajaya, Kota Bekasi, pada Rabu (1/4/2026) malam menghanguskan sekitar 2.000 meter persegi lahan dan menyebabkan kerusakan berat.
"Lahan yang terbakar sekitar 2.000 meter persegi. Untuk dugaan sementara akibat adanya arus pendek listrik," ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kota Bekasi, Heryanto, kepada awak media di sekitar lokasi kebakaran, Kamis (2/4/2026).
Menurut Heryanto, kebakaran terjadi saat SPBE tengah beroperasi sehingga meningkatkan risiko, termasuk potensi ledakan gas.
Baca juga: Kebakaran SPBE Cimuning Nyaris Jadi Bencana Besar, Ada Tangki 50 Ton Elpiji Dekat Permukiman
Proses pemadaman sempat mengalami kendala karena kebakaran melibatkan gas yang memerlukan penanganan khusus.
“Gas seperti ini perlu penanganan khusus dan harus dipetakan di mana titik apinya,” ujarnya.
Petugas harus bekerja ekstra hati-hati untuk mencegah potensi ledakan susulan. Kondisi ini membuat proses penanganan kebakaran menjadi lebih kompleks dibandingkan kebakaran pada umumnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




