Sejak pertama kali diluncurkan pada 2007, telepon pintar iPhone telah menjelma menjadi gawai yang paling populer dan ikonik. Apple telah menjual lebih dari 3,1 miliar unit iPhone sejak awal perilisannya, dan telah menghasilkan pendapatan sekitar 2,3 triliun dolar AS menurut laporan Counterpoint Research.
Dalam lima dekade kehadirannya, Apple, yang pada awalnya hanyalah sebuah perusahaan rintisan, telah menempatkan diri sebagai salah satu raksasa teknologi yang memberi pengaruh besar pada budaya pop dan industri global. Produk-produknya juga telah menjadi kiblat gaya hidup digital modern.
Kisah perjalanan 50 tahun Apple bermula dari garasi rumah milik keluarga Steve Jobs di California, Amerika Serikat. Pada 1 April 1976, Steve Jobs, seorang pemuda yang lekat dengan citra kutu buku, bersama temannya yang ahli dalam merakit gawai, Steve Wozniak, menandatangani dokumen kemitraan dua halaman yang menjadi cikal bakal berdirinya Apple Computer Co.
Jobs, seorang mahasiswa putus sekolah berusia 21 tahun, dan Wozniak, seorang karyawan Hewlett-Packard berusia 25 tahun, masing-masing menerima 45 persen saham di Apple. Sisa 10 persen saham diberikan kepada penasihat mereka, Ron Wayne (41), seorang insinyur di perusahaan video game Atari.
Perusahaan tersebut memulai langkah awalnya yang berat saat mencoba merancang komputer pribadi di rumah orangtua Jobs di Los Altos, California. Keragu-raguan dan bayangan akan kegagalan lantas mendorong Wayne untuk melepaskan sahamnya.
Hanya 11 hari berselang, ia melepaskan statusnya sebagai salah satu pendiri dan menjual 10 persen sahamnya dalam dua tahap pembayaran sebesar 800 dolar AS dan 1.500 dolar AS. Sebuah keputusan yang di kemudian hari dianggap sebagai kekeliruan besar, mengingat kini 10 persen saham tersebut bernilai sekitar 370 miliar dolar AS.
Sejak didirikan pada tahun 1976, Apple tidak langsung menikmati kesuksesan besar pertamanya hingga Juni 1977. Kala itu, Apple meluncurkan komputer Apple II yang dihargai 1.298 dolar AS (setara dengan sekitar 7.000 dolar AS saat ini). Penjualan Apple II meningkat pesat, sehingga mendorong Apple untuk go public pada akhir tahun 1980.
Lompatan besar Apple berikutnya terjadi pada rapat pemegang saham tahunan pada 24 Januari 1984. Dalam rapat tersebut, Steve Jobs membacakan baris pembuka lagu dari penyanyi Bob Dylan, ”The Times They Are A-Changin'”, sekaligus memperkenalkan Macintosh.
Dua hari sebelum pesta peluncuran Macintosh, Apple telah menggoda publik dengan iklan televisi berdurasi 60 detik yang disutradarai oleh sineas Ridley Scott. Iklan yang terinspirasi dari novel ”1984” karya George Orwell tersebut disaksikan oleh puluhan juta warga Amerika saat penayangan ajang Super Bowl pada 22 Januari 1984.
Keunikan iklan ini terletak pada konsepnya yang tidak memamerkan produk secara langsung, melainkan menjanjikan dunia baru yang emansipatif bagi konsumen berkat kehadiran komputer rumahan. Iklan tersebut menciptakan kehebohan besar, sehingga secara luas dianggap telah mengubah standar iklan Super Bowl menjadi sebuah bentuk seni dan bagian dari fenomena budaya.
Terlepas dari fitur-fiturnya yang terobosan, Macintosh dibanderol dengan harga yang relatif mahal, yakni sekitar 2.500 dolar AS. Hal itu menjadi salah satu alasan mengapa penjualannya tidak mencapai target yang diharapkan.
Hasil penjualan yang mengecewakan itu berbuntut pada pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pemotongan biaya operasional lainnya oleh CEO Apple saat itu, John Sculley. Mantan eksekutif PepsiCo tersebut awalnya diajak bergabung oleh Jobs pada tahun 1983. Sayangnya, setahun setelah peluncuran Macintosh, hubungan yang dulunya dekat antara Sculley dan Jobs memburuk, hingga berujung pada perseteruan perebutan kekuasaan.
Dewan direksi Apple yang memihak Sculley kemudian mendorong Jobs untuk mengundurkan diri pada September 1985. Diliputi perasaan dikhianati yang begitu dalam, Jobs menjual seluruh saham Apple miliknya dan hanya menyisakan satu lembar saham pertama.
Setelah kepergian Jobs, Apple memproduksi versi Mac yang cukup populer di bawah kepemimpinan Sculley. Namun, komputer Apple yang dirancang apik tersebut gagal membendung momentum penjualan PC (komputer pribadi) dari kompetitor yang dibanderol lebih murah dan beroperasi dengan perangkat lunak Microsoft.
Persaingan Microsoft dan Apple, yang dipicu oleh taktik Microsoft meniru antarmuka grafis Mac, memicu sengketa hukum selama tujuh tahun. Perseteruan ini berakhir dengan keputusan Mahkamah Agung AS pada tahun 1994 yang menolak klaim hak cipta Apple.
Sebelum konflik dengan Microsoft mencapai puncaknya, Apple telah memecat Sculley pada pertengahan 1993 dan menggantikannya dengan Michael Spindler, yang hanya bertahan hingga awal 1996. Spindler dipecat di tengah kerugian perusahaan yang terus membengkak.
Motherboard Apple 1 dipamerkan di Museum Apple di Utrecht, Belanda, Rabu (1/4/2026). AP/PETER DEJONG
Komputer mikro Apple II tahun 1977. AP/PETER DEJONG
Apple Museum di Utrech, Belanda. AP/PETER DEJONG
Foto Steve Wozniak dan Steve Jobs di Museum Apple, Utrecht, Belanda. AP/PETER DEJONG
Apple kemudian menunjuk CEO berikutnya dari kalangan dewan direksinya sendiri, Gilbert ”Gil” Amelio. Sebuah langkah mengejutkan diambil oleh Amelio melalui kesepakatan senilai 428 juta dolar AS untuk mengakuisisi sistem operasi buatan NeXT, perusahaan rintisan komputer yang didirikan Steve Jobs setelah ia meninggalkan Apple.
Akuisisi tersebut membuat Jobs kembali merapat ke Apple, di mana ia didaulat menjadi penasihat yang bertanggung jawab langsung kepada Amelio.
Pada Juli 1997, Apple memecat Amelio, sebuah keputusan yang membuka jalan bagi Jobs untuk melakukan perombakan signifikan. Jobs juga berdamai dengan kompetitornya, pendiri Microsoft Bill Gates, dan mencapai kesepakatan yang mencakup suntikan dana segar sebesar 150 juta dolar AS dari perusahaan pembuat Windows tersebut.
Jobs kemudian memperkenalkan jajaran komputer baru yang diberi nama ”iMac”. Huruf ”i” yang mendahului kata Mac menandai sebuah prinsip baru yang terdiri dari lima landasan: internet, individual, instruct, inform, dan inspire.
Memasuki tahun 2001, Apple menciptakan perangkat pemutar musik digital iPod, yang pada generasi awalnya mampu menyimpan hingga 1.000 lagu. Apple sukses menjual 450 juta perangkat tersebut dalam berbagai desain. Terobosan ini tidak hanya mematikan format fisik CD, tetapi juga membuka jalan bagi era streaming musik modern.
Pencapaian terbesar Apple kemudian ditorehkan pada 9 Januari 2007 di San Francisco. Saat itu, Jobs mengumumkan tiga terobosan inovatif sekaligus: iPod dengan kontrol layar sentuh, telepon seluler revolusioner, dan perangkat komunikator internet. Ia kemudian melontarkan pernyataan yang mengejutkan publik: ”Ini bukan tiga perangkat terpisah. Ini adalah satu perangkat! Dan kami menyebutnya iPhone!” ujar Jobs.
Meskipun bukan seorang penemu murni, Jobs diakui dunia karena ambisinya yang tak kenal kompromi dalam menggabungkan teknologi dengan desain, guna menciptakan produk yang intuitif dan mudah digunakan.
”Apple memasarkan Macintosh sebagai 'komputer untuk kita semua', tetapi iPhone-lah yang pada akhirnya memenuhi janji tersebut,” kata David Pogue, penulis buku ”Apple: The First 50 Years” yang baru saja dirilis.
Lebih dari 3 miliar unit iPhone telah terjual sejak saat itu. Perangkat tersebut masih menyumbang lebih dari setengah total pendapatan tahunan Apple yang mencapai 416 miliar dolar AS, hampir 15 tahun setelah kepergian Jobs. Steve Jobs meninggal dunia pada usia 56 tahun di tahun 2011 akibat kanker.
Ketergantungan Apple yang tinggi pada iPhone, menurut beberapa pihak, sebagian disebabkan oleh ketidakmampuan perusahaan untuk menciptakan produk revolusioner baru di bawah kepemimpinan CEO Tim Cook saat ini.
Dominasi iPhone telah mengubah arah model bisnis Apple. Mengingat pasar ponsel pintar premium saat ini secara luas dianggap telah jenuh, Tim Cook mencoba berekspansi ke sektor penjualan konten dan layanan digital untuk memaksimalkan basis pengguna Apple yang sangat masif.
Di tengah berbagai tantangan industri, termasuk ketatnya persaingan teknologi kecerdasan buatan (AI), sejumlah analis tetap optimistis bahwa Apple akan bertahan dan terus berkembang. Tim Cook juga masih dipercaya sebagai nakhoda yang layak untuk menjaga warisan sang visioner. Terlebih, produk-produk unggulan Apple seperti Mac, iPhone, Apple Watch, dan iPad masih memiliki basis penggemar setia yang kuat di seluruh dunia. (AP/AFP)





