Warung Madura 24 Jam: Bertahan dari Transaksi Receh, Hidup dari Kepercayaan

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com — Lampu-lampu itu tak pernah benar-benar padam. Di sudut kota, warung Madura 24 jam berdiri dalam diam, menjadi tempat singgah bagi kebutuhan kecil, juga harapan yang tak selalu besar.

Fenomena ini kini jamak terlihat di berbagai kota besar. Warung Madura bukan hanya tempat belanja, tetapi juga penopang ekonomi mikro bagi masyarakat urban, pekerja informal, hingga para perantau.

Mengisi celah

Pengamat ekonomi sekaligus Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menilai keberadaan warung Madura sebagai bentuk adaptasi usaha kecil.

Baca juga: Bukan Sekadar 24 Jam, Ini Rahasia yang Bikin Warung Madura Sulit Dikalahkan Minimarket

"Fenomena Warung Madura 24 jam mencerminkan adaptasi UMKM terhadap dinamika pasar ritel yang semakin kompetitif, terutama di tengah tekanan daya beli," kata Rizal saat dihubungi, Rabu (1/4/2026).

Warung ini hadir di celah yang tak sepenuhnya dijangkau ritel modern. Kedekatan lokasi, harga terjangkau, dan jam operasional tanpa henti membuatnya tetap relevan.

“Mereka mampu menekan biaya operasional karena skala usaha kecil, tenaga kerja terbatas yang sering berbasis keluarga, dan rantai pasok yang fleksibel," ujar Rizal.

Transaksi yang terjadi sering kali kecil, mie instan, kopi sachet, rokok, atau sabun. Namun, dari situlah roda usaha terus berputar.

Hidup di balik etalase

Di Depok Baru, sebuah warung berukuran sekitar 3×4 meter tetap ramai meski ruangnya terbatas. Sadad (27), perantau asal Sampang, Madura, menjalani hari-harinya dari balik rak sempit.

Baca juga: Buka 24 Jam, Benarkah Warung Madura Hanya Tutup Saat Kiamat?

"Setelah tiga tahun, saya diajak saudara untuk bantu di sini di Depok Baru," kata Sadad.

Penataan barang dilakukan seefisien mungkin. Rak depan diisi produk cepat laku, dinding dipenuhi gantungan sachet, sementara stok disimpan di bawah.

“Karena ruang terbatas, stok tidak bisa banyak. Jadi harus restok 2–3 kali seminggu,” ujarnya.

Malam hari tak pernah benar-benar sepi. Pelanggan tetap datang—anak kos, pengemudi ojek online, hingga sopir.

“Yang penting jangan sampai tutup. Walau hanya 4–6 orang, itu cukup untuk membuat warung tetap jalan," kata Sadad.

Kasbon pun menjadi bagian dari keseharian. Pelanggan tetap diberi kelonggaran, dicatat manual, dijaga dengan kepercayaan.

Di balik itu, ada jam kerja panjang yang tak selalu terlihat.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Baca juga: Kenapa Warung Madura Bisa Buka 24 Jam? Ternyata Ini Cara Mereka Istirahat


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Italia Kaji UU Atasi Kecanduan Medsos Anak
• 9 jam lalukatadata.co.id
thumb
UKT IPB 2026 Jalur SNBP dan SNBT, Yuk Intip!
• 57 menit lalumedcom.id
thumb
Soal Kasus di PN Depok, KPK Periksa Saksi Untuk Dalami Alur Perintah Suap
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Nusron Batasi Alih Fungsi Lahan Sawah demi Ketahanan Pangan
• 21 jam laludetik.com
thumb
TPK Bitung dan TPK Ternate Kembali Beroperasi Pasca Gempa Bumi 7,6 SR
• 1 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.