Polling kumparan: 40,48% Pembaca Ngaku Kena Holiday Blues Usai Lebaran

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Sebanyak 40,48 persen atau 119 pembaca kumparan mengaku kena holiday blues setelah lebaran. Angka ini merupakan hasil polling kumparan yang dilakukan pada 25 Maret sampai 1 April 2026.

Total ada sebanyak 294 responden yang menjawab polling ini. Sementara, terdapat 59,52 persen atau 175 responden yang mengaku tidak merasakan holiday blues tersebut.

Libur lebaran memang telah usai sejak Senin, 30 April kemarin. Masyarakat juga kembali menjalani rutinitas bekerja di hari itu. Kembalinya masyarakat ditandai pula dengan jalan protokol utama di Jakarta yang kembali dipadati kendaraan.

Selesainya libur lebatan, tak jarang membuat kita merasa sedih, cemas, atau mendadak lemas saat menyadari ketika masa liburan berakhir. Jika kamu merasakannya, ternyata kamu tidak sendirian. Fenomena ini nyata dan secara ilmiah diakui sebagai holiday blues (post-holiday blues) atau sindrom pasca liburan.

"Post holiday blues adalah keadaan mental yang sering muncul setelah seseorang selesai dari masa liburan. Gejalanya meliputi perasaan sedih, kelelahan, minimnya motivasi, dan kesulitan dalam kembali menyesuaikan diri dengan rutinitas sehari-hari setelah menikmati pengalaman yang menyenangkan selama liburan," mengutip artikel di website Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, Rabu (25/3).

Artikel oleh Dini Yulia, SKM, MARS dari RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah, menyatakan reaksi ini dipengaruhi beberapa faktor, seperti perubahan lingkungan, keletihan fisik dan mental, hingga kekecewaan karena harus menghadapi rutinitas.

Sementara itu, menurut Psikolog klinis dewasa lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Teresa Indira Andani, M.Psi., munculnya post holiday blues atau rasa malas kembali ke rutinitas setelah liburan karena adanya perbedaan drastis dari waktu senggang saat liburan ke jadwal ketat dan tuntutan pekerjaan dan rasa sepi setelah pulang dari kampung halaman.

"Liburan sering kali memberikan excitement tinggi, terutama jika itu adalah perjalanan impian atau momen berkumpul dengan keluarga yang jarang ditemui. Setelah kembali, terjadi gap emosional yang besar, sehingga muncul perasaan kosong atau kehilangan," jelas Teresa.

Teresa juga mengatakan kelelahan fisik karena perjalanan jauh atau perubahan zona waktu dan tumpukan pekerjaan yang sudah menunggu juga bisa menjadi salah satu faktor post holiday blues.

Meskipun bersifat sementara dan membaik dalam beberapa hari, Teresa menyebut dalam beberapa kasus, hal ini bisa berkembang menjadi gangguan kesehatan mental yang lebih serius seperti depresi, kecemasan, atau burnout.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemprov Bengkulu Beri Diskon 50% BBNKB untuk Kendaraan Luar Daerah
• 22 jam lalumedcom.id
thumb
Kemhan Tegaskan Rencana Pembelian Jet Tempur KF-21 Boramae Masih Tahap Penjajakan
• 10 jam lalupantau.com
thumb
Pemkot Sukabumi Minta Bantuan ke Pemprov Jabar Perbaiki Ruas Jalan Rusak
• 18 jam lalumediaindonesia.com
thumb
BGN Lakukan Optimalisasi Anggaran, Penghematan Hingga Rp20 T
• 1 jam lalutvrinews.com
thumb
Gebrakan Gubernur Jabar KDM: Rencanakan Rekrut Lulusan SD Besar-besaran sebagai Tenaga Teknis di Lapangan
• 21 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.