Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 mengguncang wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara dengan kedalaman 33 kilometer pada Kamis (2/4) pukul 05.48 WITA. Sejauh ini, terdapat satu korban tewas.
Gempa besar Sulawesi Utara dan Maluku Utara dikatakan bukan kali pertama terjadi.
"Kemudian berdasarkan sejarah, memang daerah Sulawesi Utara dan Maluku Utara ini kami punya data sampai tahun 1600 yang lalu gitu ya. Jadi memang periodenya banyak sekali terjadi bencana," kata Kepala BNPB, Suharyanto, saat jumpa pers di Gedung BNPB, Jakarta, Kamis (2/4).
Suharyanto mengatakan kekuatan gempa saat ini tak sekuat tahun 1998 lalu. Saat itu, gempa dilaporkan 7,7 magnitudo. Korban tewas tercatat ada 41 orang.
"Mudah-mudahan dampaknya, meskipun tadi masih bersifat sementara laporannya, ini tidak sebesar yang terakhir adalah yang terjadi di 1998. Itu juga sama 7,7 skala richter [magnitudo], ada 41 orang yang meninggal saat itu ya dalam sejarah," ujarnya.
"Artinya kalau nanti dampak yang sekarang ini tidak sebesar itu, paling tidak upaya meningkatkan kesiapan dan mitigasi masyarakat oleh BNPB dan BMKG ini ada hasil," sambungnya.
Lebih lanjut, Suharyanto juga mengatakan dalam periode 2019 sampai 2025 terjadi puluhan gempa bumi di atas 6 magnitudo di kawasan tersebut.
"Inilah yang mendasari dari tahun 2021 sampai 2025 yang lalu, BNPB dengan BMKG bekerja sama untuk meningkatkan kemampuan peringatan dini daripada kedua daerah tersebut," tuturnya.
"Dan alhamdulillah tadi sebagian, ini sebagian, ini bisa berfungsi dengan baik. Indikasinya adalah sirene yang dipasang oleh BMKG dan BNPB, ini ketika tadi terjadi gempa, ini berfungsi sehingga masyarakat bisa mendengar peringatan dini melalui suara sirene ini dan bisa segera menyelamatkan diri," lanjutnya.





