Bisnis.com, JAKARTA — Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mulai merilis daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan saham tinggi atau High Shareholder Concentration (HSC) pada Kamis (2/4/2026). Langkah ini dilakukan untuk menjawab kekhawatiran MSCI dan FTSE Russell terkait likuiditas pasar.
PJS Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa kebijakan ini mengadopsi best practice yang telah diterapkan bursa Hong Kong. Pengumuman HSC bertujuan memberikan informasi kepada publik jika terdapat kepemilikan saham suatu emiten yang terkonsentrasi pada sejumlah pihak tertentu.
“Pengumuman ini ditujukan untuk meningkatkan transparansi kepada investor dalam mengambil keputusan investasi,” pungkas Jeffrey dalam paparan di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Jeffrey menuturkan bahwa masuknya sebuah saham ke dalam daftar HSC tidak serta-merta menunjukkan adanya pelanggaran aturan pasar modal.
Adapun status tersebut murni merupakan penyediaan informasi bagi investor mengenai struktur kepemilikan yang sangat rapat di suatu emiten.
Penentuan saham yang masuk dalam kategori HSC dilakukan BEI dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dengan menggunakan metodologi yang telah ditetapkan dalam standar operasional prosedur (SOP).
Baca Juga
- Dilema Papan FCA di BEI, Antara Transparansi dan Risiko Merugikan Investor Publik
- Menanti Langkah Progresif BEI Ubah Aturan Papan FCA
- BEI Resmi Berlakukan Free Float 15%, Big Caps Diberi Tenggat Waktu hingga 2027
Sementara itu, BEI turut menyediakan mekanisme evaluasi. Perusahaan tercatat yang masuk dalam daftar tersebut dapat melakukan tindakan perbaikan untuk meningkatkan daya tarik investasinya atau investability.
“Apabila berdasarkan asesmen terbaru konsentrasi tinggi tersebut sudah teratasi, BEI bersama dengan KSEI akan mengeluarkan pengumuman penutup atas status tersebut,” tutur Jeffrey.
Pengumuman daftar saham HSC perdana akan dipublikasikan melalui situs resmi BEI pada hari ini, tepat setelah sesi perdagangan berakhir.
Sebagaimana diketahui, implementasi HSC merupakan satu dari empat proposal strategis yang dituntaskan Bursa dalam dua bulan terakhir.
Tiga inisiatif lainnya mencakup penguatan keterbukaan informasi pemegang saham di atas 1%, peningkatan batas minimum free float menjadi 15%, serta penyempurnaan klasifikasi investor di KSEI menjadi 39 sub-tipe.





