Di era digital seperti sekarang, gadget sudah jadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak. Orang tua kerap memanfaatkannya sebagai sarana hiburan, edukasi, bahkan untuk menenangkan si kecil saat mulai rewel.
Meski terasa membantu, penggunaan gadget yang berlebihan juga nggak dianjurkan, lho. Sebab, hal ini bisa berdampak pada perkembangan dan kesehatan anak, mulai dari gangguan tidur, menurunnya kemampuan fokus, hingga risiko keterlambatan bicara (speech delay).
Untuk menyikapi hal tersebut, kamu perlu lebih aware soal durasi dan kualitas screen time anak setiap harinya, Moms. Mengutip laman EMC Healthcare, screen time adalah waktu yang dihabiskan anak untuk melihat atau berinteraksi dengan layar smartphone, tablet, atau perangkat digital lainnya.
Nah, sejumlah teman kumparanMOM berbagi cerita soal aturan screen time yang mereka terapkan di rumah. Penasaran seperti apa? Yuk, simak pengalaman mereka di bawah ini!
Aturan Screen Time Anak versi teman kumparanMOMOrin (35), member teman kumparanMOM mengaku punya pola cukup disiplin soal penggunaan gadget. Ia hanya memberikan waktu bermain gadget setiap 6 bulan sekali dengan durasi 1 jam saja.
Karena jeda screen time yang terbilang cukup lama, tentu Mom Orin punya trik khusus supaya anaknya nggak rewel. “Jujur 6 bulan waktu yang wow banget lho buat anak-anak nunggu buat screen time. Jadi, dari kecil sih, aku alihkan ke baca buku sama main bola,” kata Orin. Menurutnya, selama ada komik atau buku, perhatian anak bisa teralihkan dari gadget.
Cerita lain datang dari member teman kumparanMOM Anita (30). Ia memberikan jatah screen time selama 30 menit saja untuk anaknya yang masih berusia 5 tahun. Durasi ini termasuk ideal dan sesuai dengan rekomendasi para ahli, lho.
Seperti dijelaskan dalam laman The Sydney Children’s Hospitals Network, anak usia 5–17 tahun disarankan nggak menggunakan layar lebih dari dua jam per hari untuk aktivitas hiburan (di luar kebutuhan sekolah).
Meski terdengar sederhana, konsistensinya menjalankan aturan ini bukan berarti tanpa tantangan. Anita mengaku harus cukup kreatif agar anaknya nggak cepat bosan saat tanpa gadget. “Ibunya harus nyari ide main tiap hari biar dia nggak bosen, belajar bikin worksheet buat ngisi kegiatan bocil,” ungkapnya.
Untuk membuat worksheet sendiri, Anita mengandalkan Canva sebagai media bantu. Biar makin semangat, ia bahkan melibatkan anaknya dalam menentukan tema atau konsepnya. “Aku ajak bocil bikin, nanti dia yang nentuin mau tema dan gambar apa. Ibunya yang edit, nanti tinggal di-print,” tuturnya.
Sementara itu, member teman kumparanMOM Mutia (37) masih memberi kelonggaran anaknya untuk bermain gadget, tapi hanya saat akhir pekan. “Di weekend dia boleh main tab sebelum makan siang atau bobo siang dan sebelum bobo malam, kurang lebih 1–2 jam,” ujarnya.
Aturan ini terasa cukup mudah dijalankan karena Mom Mutia sudah membiasakan pola literasi yang baik sejak anaknya masih kecil, bahkan rutin berlangganan majalah mingguan. Alhasil, anaknya terbiasa mengisi waktu dengan membaca buku, terutama di hari sekolah.
Selain menerapkan kebiasaan tersebut, ia juga konsisten menunjukkan sikap tegas sejak awal. “Aku juga cukup strict sih dari dulu, kalau sudah waktunya selesai main ya selesai. Alhamdulillah anaknya nggak pernah tantrum,” ucapnya.
Yuk berbagi pengalaman bersama ribuan ibu lainnya di komunitas teman kumparanMOM di kum.pr/mom2





