Ribuan warga berbaris menuju perempatan Titik Nol, Yogyakarta, Kamis (2/4/2026) pagi. Mereka adalah anggota Paguyuban Lurah dan Pamong DIY Nayantaka dan pegawai kantor kelurahan atau desa se-DIY.
Wajah sumringah memancar dari wajah mereka. Dengan baju kebanggaan model peranakan dan membawa bermacam hasil bumi khas daerah masing-masing mereka akan bersukaria merayakan hari ulang tahun ke-80 Raja Keraton Yogyakarta Sultan Hamengkubuwono X
Barisan memanjang hingga lebih sekitar 300 meter di ujung selatan Jalan Malioboro. Ruas tersebut diisi oleh kontingen dari lingkup Kota Yogyakarta dan Kabupaten Gunung Kidul.
Perwakilan dari Kabupaten Bantul membentuk barisan dari arah timur sedangkan peserta dari Kulonprogo mengisi ruas jalan dari sisi barat perempatan Titik Nol. Arus lalu lintas di kawasan itu dialihkan selama enam jam mulai pukul 06.00 demi kelancaran acara yang dihadiri ribuan warga yang dikoordinir oleh Nayantaka tersebut.
Nayantaka mewadahi 392 kalurahan dari empat kabupaten di DIY, yakni Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul. Kalurahan merupakan istilah untuk menyebut wilayah administratif desa di DIY.
Kirab tersebut juga diikuti oleh 46 kelurahan di Kota Yogyakarta yang bernaung dalam Paguyuban Sekartejo. Oleh karena itu, peserta kirab berasal dari 438 desa/kelurahan.
Pada hari itu peserta kirab tersebut bersukaria merayakan hari ulang tahun ke-80 Raja Keraton Yogyakarta Sultan Hamengkubuwono X. Mereka tanpa segan menyiapkan gunungan serta bermacam produk lokal sebagai wujud persembahan kepada raja mereka.
Hal itu, antara lain, sebagai wujud terima kasih kepada Sultan karena telah diperbolehkan menggunakan sebagian tanah Keraton Yogyakarta untuk dikelola oleh kelurahan atau desa. Sang Raja juga dinilai telah mengayomi dan mengedepankan kesejahteraan rakyatnya.
Suranto, Kepala Desa Pakembinangun, adalah salah satu lurah yang ikut dalam kirab itu. Ia kagum dengan peraturan tata tertib yang diberlakukan pada seluruh peserta kirab.
“Keris yang saya bawa di punggung tadi diminta oleh panitia untuk disimpan saat mendekati pagelaran,” kata Suranto. Pria tersebut dengan suka rela menyanggupi permintaan itu karena menurutnya hal tersebut merupakan sebuah sikap hormat yang wajib dilakukan untuk menghormati Sang Raja.
Beberapa peserta rela datang sejak pagi agar dapat mengikuti acara itu. “Kami menyiapkan hasil bumi yang dibawa hari ini sejak kemarin. Kami sudah sampai di sini (Titik Nol) sejak jam 5 pagi,” ujar Caca (31), karyawan bagian sekretaris desa dari Desa Sinduadi. Hari itu ia bertugas membawa air mineral untuk rekan-rekannya.
Bagi mereka, kesempatan untuk bertemu secara langsung dengan Sultan Hamengkubuwono X dalam acara khusus itu adalah sebuah privilese. Mereka pun mengerahkan segala daya upaya dengan penuh suka cita agar hari spesial bagi Sang Raja itu terasa penuh makna dan istimewa.





