Manama: Militer Amerika Serikat (AS) kini menghadapi tantangan besar dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz yang terancam oleh penempatan ranjau laut oleh Iran.
“Langkah-langkah pembersihan sedang disiapkan, menyusul bukti visual serangan terhadap kapal pemasang ranjau milik Iran di Teluk Persia,” ujar laporan dari TRT World, Kamis 2 April 2026.
Ranjau laut menjadi ancaman asimetris yang sangat berbahaya bagi kapal komersial maupun kapal perang. Data sejarah menunjukkan bahwa sejak Perang Dunia II, ranjau telah melumpuhkan 15 kapal Angkatan Laut AS, jumlah yang lebih besar dibandingkan gabungan semua jenis senjata lainnya.
Di tengah meningkatnya ancaman, Angkatan Laut AS sedang melakukan transisi armada dari kapal penyapu ranjau kelas Avenger berbahan kayu ke kapal Littoral Combat Ship (LCS) kelas Independence. Kapal LCS dirancang untuk tetap berada di luar zona bahaya sambil menggunakan sistem nirawak dan helikopter untuk mendeteksi serta menghancurkan ranjau.
Namun, proyek LCS kerap dikritik karena penundaan pengembangan, pembengkakan biaya, serta kegagalan peralatan misi yang esensial. Saat ini, kapal LCS yang memiliki kemampuan kontra-ranjau justru berada di Asia, bukan di lokasi konflik Timur Tengah, yang memicu kritik dari para pakar keamanan.
Kesenjangan kemampuan ini membuat AS berada dalam posisi sulit. Pakar militer mencatat bahwa negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, Turki, dan Polandia justru memiliki armada penyapu ranjau yang lebih mumpuni dan berjumlah besar.
Pada Perang Teluk dan Perang Irak, AS sangat bergantung pada bantuan teknologi penyapu ranjau dari sekutu NATO. Presiden Donald Trump mendesak sekutu Eropa untuk mengamankan jalur minyak mereka sendiri secara mandiri, namun Eropa dinilai belum memiliki sumber daya militer yang cukup tanpa kepemimpinan AS.
Pembersihan ranjau adalah pekerjaan yang sangat lambat dan berbahaya. Setiap unit ranjau memerlukan waktu berjam-jam untuk diledakkan secara terkendali. Sebelum operasi dimulai, diperlukan patroli udara tempur di atas Selat Hormuz.
Setelah pembersihan, kapal perusak harus dikerahkan untuk mengawal kapal tanker minyak. Jika operasi dimulai hari ini, dibutuhkan setidaknya satu bulan bagi armada untuk benar-benar siap bergerak di lapangan.
Hingga saat ini, efektivitas sistem kontra-ranjau pada kapal LCS masih menjadi tanda tanya besar karena belum pernah diuji dalam kondisi perang yang sesungguhnya. Para pemimpin militer meminta adanya kesabaran strategis mengingat kerumitan teknis di salah satu jalur pelayaran paling krusial di dunia ini.
(Kelvin Yurcel)




