jpnn.com - Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni geram kasus penyiraman air keras terhadap aktivis terjadi lagi.
Kali ini, korbannya ialah Muhammad Rosidi, aktivis lingkungan dari Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung yang menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tak dikenal (OTK).
BACA JUGA: 638.000 Guru Madrasah Swasta Tak Bisa Jadi PPPK Diusulkan Dapat Insentif, Misalkan Rp 5 Juta per Bulan
Akibat peristiwa itu, dia mengalami luka bakar pada kaki, tangan, dan selangkangan.
Rosidi, Senin (1/4), menyebut bahwa dirinya disiram air keras pada 17 Februari 2026 lalu di wilayah Toboali, Bangka Selatan.
BACA JUGA: Jawab Isu Pemda Bakal Pecat PPPK, MenPAN-RB Berkata Tegas
Dia menduga teror itu berkaitan dengan sikap kritisnya soal penambangan ilegal dan penyelundupan.
Terkait hal itu, Sahroni mengaku geram dan meminta kapolda Babel turun langsung. Jika dibiarkan, teror seperti itu bisa menimpa siapa pun.
BACA JUGA: Pria di NTB Tewas Setelah Ajak Gadis 17 Tahun Check-in Hotel, Ini yang Terjadi
"Ini jelas teror terstruktur, bukan hanya buat aktivis, tetapi juga buat kita semua. Ini benar-benar sudah sangat mengkhawatirkan," kata Sahroni, Kamis (2/4/2026).
Sahroni meminta kapolda Bangka Belitung tegas dan langsung turun tangan memberikan atensi terhadap kasus penyiraman air keras tersebut.
"Jangan berlama-lama, segera usut fakta-fakta kejadiannya. Siapa pun pelakunya harus segera diungkapkan ke publik seterang-terangnya," ucap Sahroni.
Dia menilai maraknya kasus intimidasi dan penyerangan terhadap pihak yang bersuara kritis merupakan situasi yang berbahaya jika terus dibiarkan.
"Kasus intimidasi seperti ini tidak boleh dibiarkan. Kemarin Andrie Yunus dari KontraS, nah ini baru lagi ketahuan ada kejadian di Babel. Besok siapa lagi? Bisa saja menimpa siapa pun di luar sana," tuturnya.
Sahroni menilai pola kekerasan seperti ini jelas berbahaya bagi keamanan masyarakat sipil.
"Maka, polisi harus segera ungkap dan pidanakan pelakunya, dan pastikan ini adalah yang terakhir," kata Sahroni.(fat/jpnn)
Simak! Video Pilihan Redaksi:
Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam




