?Jakarta: Dosen Matematika Aljabar Universitas Gadjah Mada (UGM), Indah Emilia Wijayanti, mengatakan terjadi penurunan skill matematika yang signifikan setiap momen penerimaan mahasiswa baru di jenjang perguruan tinggi. Hal tersebut berdasarkan pada penelitian University of Eastern Finland (2023) serta hasil Programme for International Student Assessment (PISA) terbaru.
"Jika dibandingkan, mahasiswa baru program studi Matematika 5 tahun atau 10 tahun yang lalu memiliki kemampuan berpikir matematis yang lebih mumpuni dibanding sekarang," kata Indah, mengutip situs UGM, Kamis, 2 April 2026.
Baca Juga :
Gagal SNBP? Simak Jadwal, Biaya, dan Cara Daftar UTBK-SNBT 2026"Kita harus bisa mengemas dengan lebih menarik. Dan ini tidak mudah. Itu tantangan buat si pengajar. Biasanya gini, saya kasih motivasi dulu, kemudian saya masukin teorinya, teorinya kayak gini, lho. Setelah itu mereka baru saya ajak untuk terapkan," jelasnya.
Sebagai informasi, penelitian University of Eastern Finland di British Journal of Educational Psychology yang terbit akhir tahun 2023, menunjukkan bahwa minat dan persepsi kompetensi anak-anak terhadap Matematika umumnya positif ketika mereka mulai bersekolah. Namun, minat dan persepsi kompetensi siswa terhadap Matematika menjadi kurang positif pada tiga tahun pertama setelah bersekolah di sekolah dasar.
Selain itu, hasil survei PISA yang dilakukan oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) tahun 2025 lalu menunjukkan dari beberapa bidang yang diujikan, meliputi matematika, literasi, dan sains, menunjukkan skor ketiga bidang tersebut konsisten turun sejak tahun 2015.
Indah mengatakan, penurunan kemampuan literasi matematika ini terkait dengan pemahaman mahasiswa saat ia duduk di bangku sekolah dasar dan menengah. Sehingga mempengaruhi proses pembelajarannya di perguruan tinggi.
"Sederhananya, jika di Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah Pertama materi matematikanya berkurang, maka di sekolah Menengah Atas juga berkurang," katanya.
Ia menyebut, teknologi telah jauh mempermudah siswa ketika mengerjakan ujian matematika. Selain itu, distraksi fokus dalam proses belajar juga menjadi faktor penyebab penurunan kemampuan matematis generasi sekarang ini.
Indah menjelaskan bahwa satu-satunya treatment untuk menguasai matematika hanya dengan berlatih. Ia mengatakan bahwa kebiasan berlatih mengerjakan soal-soal yang mudah sekalipun dapat menstimulasi otak dan meningkatkan kemampuan berlogika.
"Dengan berlatih, siswa dan mahasiswa akan mampu meningkatkan kompetensi sendiri, bahkan bisa fokus yang sesuai dengan minat mereka," ujarnya.
Ilustrasi Pexels
Kendati demikian, lanjut Indah, membentuk generasi muda dengan budaya sains yang kental tidak bisa hanya melimpahkan tanggung jawab hanya kepada pendidik atau keluarga saja. Pakar Aljabar itu menyampaikan bawah peran regulasi yang menentukan porsi belajar juga berpengaruh.
"Kurikulum seharusnya membebaskan, jangan terlalu dibatasi oleh pemerintah. Kami universitas, seharusnya diberi kebebasan untuk muatannya, turunkan kapasitasnya, sehingga mahasiswa bisa mengeksplorasi bidang yang diminati di luar matematika," ucapnya.




