Mantan Menteri Luar Negeri Iran, Kamal Kharazi diduga jadi target serangan udara Israel. Serangan yang terjadi di rumah Kharazi itu membuatnya luka parah dan istrinya tewas.
Diketahui, serangan udara Amerika Serikat dan Israel terus menghantam Iran selama lima minggu terakhir. Media Iran pada hari Kamis melaporkan bahwa rumah Kharazi di Teheran menjadi sasaran serangan udara sehari sebelumnya.
Kharazi dilarikan ke rumah sakit dengan luka serius, menurut surat kabar Shargh, Etemad, dan Ham Mihan.
"Kami telah melihat apa yang tampak seperti upaya pembunuhan terhadap mantan menteri luar negeri, Kamal Kharazi... Kami tidak tahu mengapa dia menjadi sasaran. Dia terluka parah, dan istrinya tewas," kata Mohamed Vall dari Al Jazeera, melaporkan dari Teheran, dilansir Al-Jazeera, Kamis (2/4/2026).
Serangan udara dilaporkan terjadi pada hari Kamis di seluruh Iran, termasuk di Teheran, Isfahan, dan Shiraz. Empat orang dilaporkan tewas di Larestan, di Iran selatan.
Juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, mengatakan serangan tersebut menargetkan Institut Pasteur Iran, sebuah pusat penelitian medis yang didirikan pada tahun 1920 dan menyebabkan kerusakan parah.
Dalam sebuah unggahan di X, Kermanpour menyebut serangan terhadap "pilar kesehatan global berusia seabad" di Teheran sebagai "serangan langsung terhadap keamanan kesehatan internasional".
Sementara itu, juru bicara komando gabungan angkatan bersenjata mengatakan Teheran akan terus melanjutkan perang Timur Tengah hingga AS dan Israel menghadapi "penyesalan permanen dan penyerahan diri", seperti yang dilaporkan oleh kantor berita semi-resmi Tasnim.
Ebrahim Zolfaghari, juru bicara markas besar Khatam al-Anbiya, mengatakan penilaian AS dan Israel tentang kemampuan militer Iran "tidak lengkap" dan bahwa Teheran akan meningkatkan aksi militernya, dengan serangan yang "lebih menghancurkan, lebih luas, dan lebih merusak" yang akan dilancarkan terhadap musuh-musuhnya.
Ancaman tersebut menyusul komentar Presiden AS Donald Trump bahwa Washington akan menyerang Iran "dengan sangat keras" dalam beberapa minggu, meskipun Iran "pada dasarnya telah hancur" dan AS berada di jalur yang tepat untuk mencapai tujuan militernya.
Menanggapi pidato Trump, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan Teheran "tidak akan mentolerir siklus kejam perang, negosiasi, gencatan senjata, dan kemudian mengulangi pola yang sama."
"Ini adalah perang yang tidak adil yang telah dipaksakan kepada rakyat Iran. Kita tidak punya pilihan selain melawan dengan kuat," tambahnya.
Lebih dari 2.000 orang tewas di Iran sejak AS dan Israel melancarkan serangan udara gabungan pada 28 Februari. Setidaknya 24 orang tewas di Israel, serta 13 tentara AS di wilayah tersebut.
Setidaknya empat warga Israel terluka di Bnei Brak, sebelah timur Tel Aviv, menyusul serangan rudal Iran pada Rabu malam. Komando Pertahanan Dalam Negeri Israel pada hari Kamis mengeluarkan beberapa peringatan tentang serangan roket yang akan datang, dan menyarankan masyarakat untuk berlindung.
(eva/idn)





