Kasus Suspek Campak di Brebes Tembus 200

metrotvnews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Brebes: Kasus suspek campak di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, naik mencapai 200 orang. Angka ini melonjak lima kasus dalam waktu 24 jam terakhir. 

Kepala Dinas Kesehatan Brebes, Heru Padmonobo, mengungkap gejala klinis yang patut diwaspada. Antara lain demam tinggi, ruam-ruam merah di sekujur tubuh yang muncul bertahap dari wajah hingga ke seluruh tubuh, batuk pilek yang persisten, serta nyeri pada tulang dan badan.

“Gejala-gejala ini menjadi panduan awal bagi tenaga medis dalam mengidentifikasi potensi penularan dan membedakannya dari penyakit lain dengan gejala serupa,” ujar Heru, Kamis, 2 April 2026. 

Baca Juga :

51 Balita di Bandar Lampung Suspek Campak
Heru menuturkan ada kendala besar yang berpotensi menghambat penanganan, yakni  keterbatasan reagensia. Dari ratusan sampel darah yang diambil dari pasien suspek, baru lima di antaranya yang berhasil diperiksa di Balai Besar Labkesmas Yogyakarta.

“Ironisnya dari sampel yang sangat terbatas itu, empat di antaranya dinyatakan reaktif atau positif campak. Baru 5 sampel yang diperiksa. Lainnya belum karena keterbatasan reagensia dan masih menunggu kiriman dari pusat. Hasil dari 5 sampel itu, 4 diantaranya positif atau 80 persen,” jelas Heru.

Dia menyebut kondisi ini menyiratkan bahwa jumlah kasus positif jauh lebih tinggi dari yang terdeteksi saat ini. Desa Bentar dan Desa Salem di Kecamatan Salem menjadi sorotan utama karena seluruh kasus positif berasal dari dua desa tersebut.

“Peningkatan angka suspek campak ini bukan fenomena lokal semata. Tren kenaikan serupa juga terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia, menunjukkan adanya gelombang epidemiologi yang perlu direspon secara nasional. Hal ini mengisyaratkan adanya kesenjangan imunisasi atau faktor lain yang menyebabkan kerentanan populasi,” jelas Heru. 


Ilustrasi campak. (Freepik)

Heru menginstruksikan kepala Puskesmas untuk memprioritaskan perlindungan bagi tenaga kesehatan (nakes). Pihaknya juga sudah menginstruksikan para direktur dan kepala Puskesmas untuk melindungi nakes, status kesehatan nakes dengan SOP nya agar dalam penanganan juga terlindungi.
 
“Langkah ini krusial agar garda terdepan penanganan kesehatan tidak tumbang di tengah perjuangan melawan wabah, mengingat campak sangat menular,” paparnya.

Menurut dia keterbatasan reagensia menjadi pekerjaan rumah mendesak bagi pemerintah pusat dan daerah. Tanpa alat deteksi yang memadai, upaya pelacakan kontak yang agresif, isolasi kasus, dan penanganan dini akan terhambat, membuka celah lebih lebar bagi virus untuk menyebar dan berpotensi menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, ensefalitis, atau bahkan kematian, terutama pada anak-anak. 

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada. Penting untuk segera melaporkan jika mengalami gejala serupa, menghindari kerumunan jika sakit, dan yang paling krusial adalah memastikan status imunisasi anggota keluarga, terutama anak-anak, sesuai jadwal,” tegas Heru seraya menambahkan vaksin campak adalah benteng pertahanan terbaik. (MI/JI)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Seusai Tumbangkan Italia, Bek Bosnia Tarik Muharemovic: Saya Turut Prihatin untuk Mereka
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Video: Gudang Baru Bulog Senilai 5 Triliun, Bakal Dibangun BUMN Karya
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Rismon Pastikan Restorative Justice yang Diajukan Tanpa Paksaan: Tidak Ada Intervensi Pihak Manapun
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
BMKG Pastikan Potensi Tsunami Pascagempa Malut–Sulut Sudah Berakhir
• 12 jam laluharianfajar
thumb
Pengunjung Keluhkan Minim Petunjuk Parkir Resmi di Kawasan Blok M
• 43 menit lalukompas.com
Berhasil disimpan.