Jakarta, tvOnenews.com - Pemain keturunan Indonesia, Radja Nainggolan akhirnya membuka suara soal penyesalan terbesarnya dalam karier internasional. Gelandang berusia 37 tahun itu mengakui bahwa seharusnya ia lebih memilih membela Timnas Indonesia ketimbang terus berjuang untuk tim nasional Belgia.
Radja Nainggolan mengungkapkan rasa frustrasinya setelah hanya tampil dalam 30 laga bersama tim nasional Belgia sepanjang kariernya. Padahal, pengorbanan yang ia lakukan untuk bisa memperkuat Les Diables Rouges—julukan timnas Belgia—tidaklah kecil.
"Saya sangat kesulitan menghadapinya," kata Nainggolan tentang akhir kariernya bersama tim nasional Belgia dikutip dari media Belanda, Voetbal Primeur, Kamis (2/4/2026).
- instagram.com/ksclokerentemse_official/
"Saya mengorbankan hidup saya untuk bisa bermain bagi Setan Merah," lanjutnya.
Ia secara terang-terangan menyebut Indonesia sebagai pilihan yang seharusnya ia ambil lebih awal.
"Jika saya tahu akan berakhir seperti ini, saya akan memilih Indonesia lebih awal. Saya bangga menjadi orang Belgia," katanya.
Pengalaman Radja Nainggolan membela klub di Indonesia rupanya meninggalkan kesan mendalam yang sulit terlupakan. Sambutan hangat dan penghormatan luar biasa dari masyarakat Indonesia menjadi salah satu momen terbaik dalam hidupnya.
- Instagram @bhayangkarafc
"Saya bermain sepak bola di Indonesia selama enam bulan. Rasa hormat dan apresiasi yang saya terima dari orang-orang di sana sangat berbeda dengan dunia sepak bola Belgia," kata Nainggolan kepada De Tafel van Gert.
Kisah pahit Nainggolan bersama timnas Belgia mencapai titik nadir ketika dirinya tidak diikutsertakan dalam skuad Piala Dunia 2018. Alasan yang ia terima pun terasa sangat menyakitkan dan tidak masuk akal baginya.
"Pada tahun 2018, saya tidak diizinkan pergi ke Piala Dunia karena saya akan menimbulkan keributan di bangku cadangan. Itu omong kosong belaka. Jadi saya bilang, oke, kalau begitu sudah," katanya.
Sejak insiden tersebut, Nainggolan tidak lagi mengenakan seragam timnas Belgia hingga saat ini. Hubungannya dengan federasi sepak bola Belgia pun tak kunjung membaik setelah konflik panjang yang mewarnai perjalanan kariernya.



