New York: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui misi penjaga perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), tengah melakukan investigasi menyeluruh atas gugurnya tiga pasukan penjaga perdamaian Indonesia di tengah konflik Israel dan Hizbullah di Lebanon.
“Namun, kondisi keamanan yang rentan di tengah konflik yang sedang berlangsung menjadi tantangan terhadap ketepatan waktu dalam pengumpulan bukti dan verifikasi fakta,” ujar pernyataan PBB yang dilansir dari akun X, UN, Kamis 2 April 2026.
“Terdapat kebutuhan untuk menurunkan eskalasi konflik (deconfliction) sepanjang penyelidikan,” imbuh pernyataan itu.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menekankan bahwa proses investigasi harus dilakukan secepat mungkin namun tetap memastikan keamanan personel yang melakukan investigasi sehingga tidak kembali menjadi korban.
Sebanyak tiga pasukan UNIFIL dari Indonesia gugur dalam tugasnya di dua waktu terpisah. Merek gugur akibat ulah Israel yang saat itu tengah konfrontasi dengan Hizbullah.
Stephane Dujarric, Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB menegaskan bahwa insiden-insiden ini tidak dapat diterima perlu adanya tanggungjawab penuh.
“Harapan Sekretaris Jenderal adalah penyelidikan dilakuan secepat mungkin dan seaman mungkin. Kita berbicara tentang pelaksanaan pemeriksaan forensik yang berada di daerah konflik agar personel UNIFIL yang bertugas dapat kembali ke lokasi insiden tersebut” kata Dujarric.
Dujarric menyebutkan bahwa pasukan UNIFIL perlu melakukan koordinasi penurunan ekskalasi konflik. PBB tidak ingin melihat di mana mereka yang sedang menyelidiki justru menempatkan diri dalam bahaya saat mereka menginvestigasi.




