Program Dandan Kampung Surabaya Ubah Wajah Permukiman dan Dorong Partisipasi Warga

pantau.com
7 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Program Dandan Kampung yang dijalankan Pemerintah Kota Surabaya menjadi strategi penataan kawasan permukiman dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih layak huni dan berkelanjutan.

Program ini dikawal oleh Ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya Eri Irawan yang memastikan pelaksanaannya berjalan sesuai tujuan penataan kota berbasis komunitas.

"Program Dandan Kampung tidak hanya mempercantik kawasan, tetapi juga mendorong partisipasi aktif warga agar tercipta lingkungan yang lebih layak huni, berdaya, dan memiliki karakter," ungkapnya.

Kolaborasi Lintas Sektor dalam Penataan Kampung

Pelaksanaan program melibatkan kolaborasi antara Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan Surabaya, perguruan tinggi, organisasi non-pemerintah, serta komunitas warga.

Keterlibatan mahasiswa lintas disiplin menjadi salah satu kekuatan dalam penyusunan konsep penataan kampung di berbagai wilayah.

"Saya melihat kolaborasi yang baik antara mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat dalam merancang penataan kawasan," ujarnya.

Warga juga dilibatkan melalui forum diskusi di tingkat lingkungan guna memastikan proses perencanaan berjalan partisipatif.

Fokus Penataan dan Dampak Ekonomi Warga

Program Dandan Kampung difokuskan pada peningkatan kualitas hunian, optimalisasi ruang publik, penguatan identitas kawasan, serta penciptaan lingkungan berkelanjutan.

Lokasi pelaksanaan mencakup Kampung Dinoyo, Kampung Keputran, Kampung Lawas Maspati, Kampung Semanggi, Kampung Pecinan, dan Kampung Ketandan.

Dari sisi tata kota, program ini membantu mengurangi kawasan kumuh sekaligus meningkatkan keteraturan ruang kota secara keseluruhan.

Penataan kampung juga berdampak pada peningkatan nilai aset warga serta membuka peluang pengembangan usaha berbasis rumah tangga termasuk UMKM.

"Program ini menunjukkan adanya pergeseran dalam cara pandang terhadap permukiman rakyat menjadi lebih inklusif dan berkelanjutan," ia mengungkapkan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BMKG Sebut Gempa 7,6 M Sulut-Malut Beda dengan Tsunami Aceh, Ini Penjelasannya
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Kajari Karo Minta Maaf di Depan Komisi III DPR Terkait Kasus Amsal Sitepu
• 8 jam laluviva.co.id
thumb
Ucapan Jay Idzes Jadi Topik Panas di Bulgaria, hingga Pengamat Belanda Sebut Naturalisasi Timnas Indonesia Bodoh
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Presiden Prabowo Tiba di Tanah Air Usai Rampungkan Kunjungan ke Jepang dan Republik Korea
• 19 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Singapura Uji Coba Taksi Tanpa Pengemudi
• 13 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.