Jakarta (ANTARA) - Dunia Mencekam Studio bekerja sama dengan Rumah Produksi Santara mempersembahkan film horor terbaru berjudul “Songko”, yang terinspirasi dari legenda lokal di masyarakat Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa dan Tomohon.
Menjadi debut penyutradaraan Gerald Mamahit di layar lebar, film “Songko” menghadirkan kisah horor yang menegangkan, tetapi juga mencoba menggali kekayaan cerita rakyat dari Indonesia Timur.
“Songko adalah cerita yang sangat dekat dengan budaya dan legenda masyarakat Minahasa. Kami ingin menghadirkan horor yang terasa autentik, bukan hanya menakutkan secara visual, tetapi juga memiliki akar cerita yang kuat dari tradisi lokal,” ujar Gerald Mamahit, dalam keterangan resminya diterima di Jakarta, Kamis.
Film ini juga menggandeng talenta-talenta lokal untuk menceritakan kisah dari daerah mereka sendiri, sehingga cerita yang dihadirkan terasa lebih autentik dan memiliki kedekatan budaya yang kuat.
Dibintangi oleh Annette Edoarda, Imelda Therinne, Fergie Brittany, Tegar Satria, dan Khiva Iskak, film “Songko” akan membawa penonton masuk ke dalam atmosfer misteri dan ketakutan yang menyelimuti sebuah desa di Tomohon.
Baca juga: Film “Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?” tayang di bioskop 9 April
Aktor Khiva Iskak mengatakan keterlibatannya dalam film ini menjadi pengalaman yang sangat berbeda karena cerita yang diangkat terasa begitu dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.
“Yang membuat film ini menarik adalah kisahnya berasal dari legenda yang benar-benar dipercaya oleh masyarakat. Saat menjalani proses syuting di Tomohon, suasananya terasa sangat kuat dan mendukung atmosfer cerita,” ungkap Khiva Iskak.
Sementara itu, Annette Edoarda mengaku tertarik bergabung dalam film ini karena kekuatan ceritanya yang berbeda dari horor kebanyakan.
“Songko bukan hanya film horor biasa. Ceritanya tentang ketakutan, tuduhan, dan bagaimana sebuah desa bisa terpecah karena teror yang tidak mereka pahami,” kata Annette Edoarda.
Sebagai bentuk komitmen terhadap konsep hyperlocal storytelling, Santara tidak hanya menjadikan Sulawesi Utara sebagai latar cerita. Tim produksi bahkan membangun area set lokasi syuting di kaki Gunung Lokon, Tomohon, yang dirancang bukan sekadar instalasi sementara, melainkan sebagai infrastruktur kreatif berkelanjutan.
Baca juga: Film "Aku Harus Mati" sampaikan pesan moral kekinian
Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem perfilman daerah dalam jangka panjang. Sebagian besar cast dan crew yang terlibat dalam produksi Songko juga berasal dari Minahasa, Manado, dan Tomohon, sehingga proyek ini menjadi ruang kolaborasi bagi talenta-talenta lokal untuk terlibat langsung dalam produksi film layar lebar.
Film "Songko" berlatar tahun 1986, sebuah desa di Tomohon, tanah Minahasa, dilanda teror yang membuat warganya hidup dalam ketakutan. Satu per satu perempuan muda ditemukan tewas secara mengenaskan tanpa penjelasan yang pasti.
Warga desa mulai percaya bahwa kematian tersebut bukanlah kejadian biasa. Mereka meyakini bahwa desa mereka didatangi oleh Songko, makhluk misterius yang dipercaya mengincar darah suci dari perempuan muda demi memperoleh kekekalan.
Ketakutan perlahan berubah menjadi kecurigaan. Tuduhan demi tuduhan mulai bermunculan, hingga akhirnya mengarah kepada keluarga Mikha. Helsye, ibu tiri Mikha, dituduh menjadi dalang yang memanggil Songko ke desa mereka.
Film "Songko" dijadwalkan akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 23 April 2026.
Baca juga: Sekuel film eksorsisme “Kuasa Gelap” siap tayang 2026
Baca juga: "Pelangi di Mars" bawa kisah heroik untuk selamatkan manusia bumi
Baca juga: "Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa", balas dendam yang emosional
Menjadi debut penyutradaraan Gerald Mamahit di layar lebar, film “Songko” menghadirkan kisah horor yang menegangkan, tetapi juga mencoba menggali kekayaan cerita rakyat dari Indonesia Timur.
“Songko adalah cerita yang sangat dekat dengan budaya dan legenda masyarakat Minahasa. Kami ingin menghadirkan horor yang terasa autentik, bukan hanya menakutkan secara visual, tetapi juga memiliki akar cerita yang kuat dari tradisi lokal,” ujar Gerald Mamahit, dalam keterangan resminya diterima di Jakarta, Kamis.
Film ini juga menggandeng talenta-talenta lokal untuk menceritakan kisah dari daerah mereka sendiri, sehingga cerita yang dihadirkan terasa lebih autentik dan memiliki kedekatan budaya yang kuat.
Dibintangi oleh Annette Edoarda, Imelda Therinne, Fergie Brittany, Tegar Satria, dan Khiva Iskak, film “Songko” akan membawa penonton masuk ke dalam atmosfer misteri dan ketakutan yang menyelimuti sebuah desa di Tomohon.
Baca juga: Film “Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?” tayang di bioskop 9 April
Aktor Khiva Iskak mengatakan keterlibatannya dalam film ini menjadi pengalaman yang sangat berbeda karena cerita yang diangkat terasa begitu dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.
“Yang membuat film ini menarik adalah kisahnya berasal dari legenda yang benar-benar dipercaya oleh masyarakat. Saat menjalani proses syuting di Tomohon, suasananya terasa sangat kuat dan mendukung atmosfer cerita,” ungkap Khiva Iskak.
Sementara itu, Annette Edoarda mengaku tertarik bergabung dalam film ini karena kekuatan ceritanya yang berbeda dari horor kebanyakan.
“Songko bukan hanya film horor biasa. Ceritanya tentang ketakutan, tuduhan, dan bagaimana sebuah desa bisa terpecah karena teror yang tidak mereka pahami,” kata Annette Edoarda.
Sebagai bentuk komitmen terhadap konsep hyperlocal storytelling, Santara tidak hanya menjadikan Sulawesi Utara sebagai latar cerita. Tim produksi bahkan membangun area set lokasi syuting di kaki Gunung Lokon, Tomohon, yang dirancang bukan sekadar instalasi sementara, melainkan sebagai infrastruktur kreatif berkelanjutan.
Baca juga: Film "Aku Harus Mati" sampaikan pesan moral kekinian
Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem perfilman daerah dalam jangka panjang. Sebagian besar cast dan crew yang terlibat dalam produksi Songko juga berasal dari Minahasa, Manado, dan Tomohon, sehingga proyek ini menjadi ruang kolaborasi bagi talenta-talenta lokal untuk terlibat langsung dalam produksi film layar lebar.
Film "Songko" berlatar tahun 1986, sebuah desa di Tomohon, tanah Minahasa, dilanda teror yang membuat warganya hidup dalam ketakutan. Satu per satu perempuan muda ditemukan tewas secara mengenaskan tanpa penjelasan yang pasti.
Warga desa mulai percaya bahwa kematian tersebut bukanlah kejadian biasa. Mereka meyakini bahwa desa mereka didatangi oleh Songko, makhluk misterius yang dipercaya mengincar darah suci dari perempuan muda demi memperoleh kekekalan.
Ketakutan perlahan berubah menjadi kecurigaan. Tuduhan demi tuduhan mulai bermunculan, hingga akhirnya mengarah kepada keluarga Mikha. Helsye, ibu tiri Mikha, dituduh menjadi dalang yang memanggil Songko ke desa mereka.
Film "Songko" dijadwalkan akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 23 April 2026.
Baca juga: Sekuel film eksorsisme “Kuasa Gelap” siap tayang 2026
Baca juga: "Pelangi di Mars" bawa kisah heroik untuk selamatkan manusia bumi
Baca juga: "Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa", balas dendam yang emosional





