Jakarta, tvOnenews.com - Iran dilaporkan tengah menyiapkan mekanisme baru untuk kapal-kapal yang ingin melintas di Selat Hormuz, salah satu jalur energi terpenting dunia.
Dalam skema terbaru ini, pembayaran tidak lagi menggunakan dolar AS, melainkan dialihkan ke yuan China serta aset digital stablecoin.
Kebijakan tersebut dinilai menjadi bagian dari langkah strategis Teheran untuk mengurangi dominasi dolar dalam transaksi energi internasional, sekaligus memperluas jalur perdagangan alternatif di tengah tekanan geopolitik dan sanksi ekonomi Barat.
China disebut menjadi mitra yang paling diuntungkan karena selama ini merupakan salah satu pembeli utama minyak Iran.
Selain perubahan metode pembayaran, Iran juga menyiapkan biaya lintasan baru bagi kapal tanker. Besaran tarif disebut dimulai dari 1 dolar AS per barel minyak yang dibawa kapal.
Dengan kapasitas Very Large Crude Carrier (VLCC) yang dapat mengangkut hingga 2 juta barel, ongkos satu kali melintas berpotensi mencapai 2 juta dolar AS, atau sekitar Rp33 miliar dengan kurs Rp16.989.
Biaya tambahan sebesar itu diperkirakan akan langsung meningkatkan ongkos logistik perusahaan pelayaran dan menambah tekanan pada harga minyak dunia, mengingat sekitar seperlima distribusi minyak global melewati Selat Hormuz.
Di sisi lain, para analis melihat kebijakan ini sebagai bagian dari agenda de-dolarisasi global, yaitu upaya sejumlah negara untuk mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan berbasis dolar AS.
Jika model serupa mulai diadopsi oleh negara lain pada jalur perdagangan strategis, pengaruh dolar dalam pasar energi internasional bisa terkikis secara bertahap.
Langkah Iran ini bukan hanya berdampak pada biaya perdagangan, tetapi juga berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan dalam sistem keuangan global, terutama pada transaksi komoditas energi yang selama puluhan tahun didominasi mata uang Amerika Serikat. (nba)




