JAKARTA, KOMPAS.com – Terdakwa peredaran narkoba di Rutan Salemba, Ammar Zoni, menangis saat membacakan nota pembelaan (pleidoi) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (2/4/2026).
Ammar membantah menjadi bandar narkoba saat menjadi tahanan di Rutan Salemba. Ia mengaku hanya mengonsumsi. Menurut Ammar, transaksi narkoba di rutan mirip seperti membeli kacang dengan harga murah.
Ia juga menuturkan deretan kesedihan pribadinya, mulai dari kehilangan ayah hingga harus merayakan Lebaran dalam sel sempit atau “sel tikus” selama tiga bulan ke belakang.
Baca juga: Kepala Rutan Salemba Bantah Pernyataan Ammar Zoni soal Narkoba Mudah Didapat Seperti Kacang Goreng
Bantah edar narkoba
Dalam pleidoinya, Ammar bersumpah dirinya tidak pernah menjual atau menjadi perantara narkoba.
"Demi Allah saya tidak seperti yang dituduhkan. Demi Allah saya bukan seorang bandar. Demi Allah saya tidak pernah sekalipun menjual atau menjadi perantara atau memiliki bahkan menyimpan barang tersebut," ujarnya di muka persidangan.
Ammar mengaku awalnya tidak menyangka Rutan Salemba bebas dari peredaran narkoba. Namun, saat ia mendapati narkoba mudah diperoleh dengan harga relatif murah, ia akhirnya menyerah pada adiksinya.
"Apalagi di sana narkoba pun rasanya seperti beli kacang goreng. Mudah sekali didapat dengan harga yang relatif murah," lanjutnya.
Ia menekankan bahwa keterlibatannya hanya sebagai pengguna karena sakit, bukan untuk memperoleh keuntungan.
"Saya cuma hanya orang yang sakit, tidak berdaya terhadap adiksi ini. Saya tahu ini salah," tuturnya.
Ia juga memohon dibebaskan demi anak-anaknya dan masa depan kariernya sebagai aktor.
“Anak-anak saya yang masih kecil dan butuh bapak kandungnya, bukan sebagai seorang penjahat yang pantas dihancurkan hidupnya,” kata dia.
Baca juga: Ammar Zoni: Demi Allah Saya Bukan Bandar Narkoba
Kehilangan Ayah
Ammar juga menceritakan kesedihannya kehilangan ayahnya yang meninggal tanpa mengetahui dirinya kembali ditahan.
Saat ayahnya sakit kanker, Ammar tidak bisa menemaninya karena berada di balik jeruji besi.
Dia tak bisa mendampingi sang ayah di saat mengembuskan napas terakhirnya lantaran Ammar sedang ditahan. Dia merasa berdosa karena itu.
"Yang membuat saya semakin hancur tiada sisa datang bukan dari siksaan Polri, melainkan dari kepergian satu-satunya orang yang selalu ikhlas berdiri di belakang saya," ujarnya dengan isak tangis.