JAKARTA, KOMPAS.com - Fenomena jasa joki game semakin marak di kalangan pemain, menandakan bahwa aktivitas bermain kini bukan sekadar hiburan. Praktik ini telah berubah menjadi ruang kompetisi, simbol status, bahkan alat pembentukan identitas diri.
Tekanan sosial untuk tampil unggul dan keterbatasan waktu membuat jalan pintas seperti menggunakan jasa joki menjadi pilihan yang semakin lazim.
Psikolog Klinis Senior sekaligus Tim Ahli Kelompok Kerja Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI, Ratih Ibrahim, melihat fenomena ini sebagai cerminan pergeseran makna dalam aktivitas bermain game.
Baca juga: Menjamurnya Jasa Joki Game: Dari Hobi Jadi Cuan, Omzet Tembus Ratusan Juta
Menurut dia, penggunaan jasa joki berkaitan erat dengan dorongan psikologis yang membuat pemain ingin mencapai sesuatu di luar sekadar kesenangan bermain.
"Keinginan untuk mencapai hasil secara cepat dan hasilnya top score, sementara dianya tidak jago-jago amat, atau demi menghindari rasa jenuh dan frustrasi saat mengalami kesulitan, atau ada sebuah kebutuhan akan pengakuan dari lingkungan bahwa: keren nih, jago banget dia di game online, bener-bener gamer," kata Ratih kepada Kompas.com, Kamis (2/4/2026).
Validasi diri dan pengakuan sosialRatih menambahkan, kebutuhan akan pengakuan dari lingkungan menjadi salah satu faktor penting yang mendorong penggunaan jasa joki.
Pencapaian dalam game kerap dianggap sebagai tolok ukur kemampuan atau identitas seseorang dalam kelompoknya, sehingga pemain merasa perlu menyesuaikan diri dengan standar yang ada.
“Terutama jika pencapaian dalam game menjadi bagian dari bagaimana individu melihat dirinya atau ingin dilihat oleh orang lain," ujarnya.
Namun, motivasi ini tidak selalu berdiri sendiri. Faktor praktis seperti keterbatasan waktu atau keinginan menghindari frustrasi juga turut memengaruhi keputusan pemain menggunakan jasa joki.
“Seperti keinginan untuk menghemat waktu, menghindari rasa frustrasi, atau memilih cara yang dianggap lebih praktis. Oleh karena itu, penting untuk memahami perilaku ini dengan melihat konteks dan motivasi masing-masing individu secara lebih menyeluruh," kata dia.
Baca juga: Sering Dikira Sama, Ini Perbedaan Joki Antre dan Praktik Percaloan
Gengsi rank dan tekanan lingkunganStatus atau rank dalam game juga memainkan peran penting. Rank sering dipandang sebagai simbol kemampuan, sehingga posisi tinggi memberikan prestise di komunitas.
Tekanan untuk mempertahankan atau meningkatkan rank semakin besar ketika lingkungan sosial memberikan nilai lebih pada pencapaian tersebut.
“Pengaruh gengsi atau status seperti rank dalam game dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perilaku tersebut, terutama ketika lingkungan sosial memberikan nilai lebih pada pencapaian tersebut," ujar Ratih.
Namun, pengaruh ini bergantung pada cara individu memaknai rank. Tidak semua pemain menganggapnya krusial, sehingga respons terhadap fenomena joki berbeda-beda.
“Ada yang melihatnya sebagai hal yang penting dan berkaitan dengan harga diri, sementara yang lain menganggapnya sekadar bagian dari permainan. Oleh karena itu, peran gengsi atau status perlu dipahami dalam konteks nilai, lingkungan, dan pengalaman masing-masing individu," katanya.
Baca juga: Joki Antre Jadi Jalan Pintas Warga...





