Ahli gempa dan tsunami sekaligus mantan Direktur Gempa dan Tsunami BMKG, Daryono, memaparkan karakteristik gempa 7,6 magnitudo yang terjadi di wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara pada Kamis (2/4) kemarin. Ia menjelaskan gempa di Laut Maluku berkaitan erat dengan dinamika tektonik yang kompleks.
“Gempa-gempa dengan mekanisme sesar naik (thrust fault) di wilayah laut Maluku merupakan konsekuensi langsung dari dinamika tektonik kompleks pada zona konvergensi ganda (double subduction system) yang unik di kawasan ini,” kata Daryono kepada wartawan, Jumat (3/4).
Ia menjelaskan laut Maluku berada di antara dua sistem subduksi aktif yang saling berhadapan. Kondisi tersebut memicu tekanan kompresi yang kuat di kerak bumi.
“Laut Maluku diapit oleh dua busur subduksi aktif, yaitu lempeng laut Maluku yang tersubduksi ke arah barat di bawah Busur Sangihe, serta ke arah timur di bawah Busur Halmahera. Kondisi ini menyebabkan akumulasi tegangan kompresi yang sangat intens pada kerak bumi,” ujarnya.
Menurut dia, mekanisme sesar naik terjadi akibat gaya kompresi horizontal yang mendorong satu blok batuan naik terhadap blok lainnya, yang umum terjadi di wilayah tersebut.
“Dalam kerangka mekanika batuan dan tektonik lempeng, mekanisme sesar naik terjadi akibat gaya kompresi horizontal yang mendorong satu blok batuan bergerak naik relatif terhadap blok lainnya. Di laut Maluku, sumber gempa thrust umumnya berasosiasi dengan bidang kontak antarlempeng (megathrust) maupun deformasi internal pada slab yang tersubduksi,” jelasnya.
Daryono juga menekankan bahwa karakteristik tersebut membuat gempa di kawasan ini memiliki potensi bahaya yang signifikan, termasuk kemungkinan memicu tsunami.
“Dari perspektif kebencanaan, gempa thrust di laut Maluku memiliki signifikansi tinggi karena berpotensi menghasilkan deformasi dasar laut secara vertikal, yang dapat memicu tsunami, terutama jika terjadi pada kedalaman dangkal dan melibatkan pergeseran besar di bidang patahan,” tuturnya.
Ia menambahkan pemahaman terhadap mekanisme gempa ini penting untuk upaya mitigasi bencana di kawasan Indonesia timur.
“Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif terhadap mekanisme ini menjadi krusial dalam upaya mitigasi risiko bencana di kawasan Indonesia timur,” pungkasnya.





