Penulis: Fityan
TVRINews – New York
Eskalasi perang antara Israel, AS, dan Iran mengancam stabilitas ekonomi global serta keamanan navigasi internasional.
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, memberikan peringatan keras mengenai situasi keamanan global yang kian memburuk akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Berbicara di depan Dewan Keamanan PBB di New York, Guterres melukiskan gambaran suram tentang kehancuran yang terus meluas saat serangan antara pihak-pihak yang bertikai semakin intensif.
Dalam narasinya, Guterres menyoroti dampak serangan udara Israel dan Amerika Serikat ke wilayah Iran, yang dibalas oleh Teheran dengan serangan ke negara-negara tetangga di kawasan Teluk.
Ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz jalur vital perdagangan energi dunia menjadi titik krusial yang dikhawatirkan memicu krisis ekonomi global yang tak terkendali.
“Setiap hari perang ini berlanjut, penderitaan manusia semakin bertambah. Skala kehancuran terus meluas, dan serangan tanpa pandang bulu semakin meningkat,” ujar Guterres dalam pernyataan resminya Kamis 2 April 2026.
Ancaman Kelaparan dan Krisis Ekonomi
Sekjen PBB menegaskan bahwa dampak krisis ini tidak lagi terbatas pada wilayah geografis Timur Tengah.
Gangguan terhadap kebebasan navigasi di Selat Hormuz berdampak langsung pada biaya hidup di seluruh dunia, mulai dari Filipina, Sri Lanka, hingga Mozambik.
“Ketika Selat Hormuz tercekik, kelompok masyarakat termiskin dan paling rentan di dunia tidak dapat bernapas,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa lonjakan biaya pangan dan energi kini menjadi ancaman nyata bagi stabilitas sosial di berbagai negara importir energi.
Langkah Diplomasi dan Penegakan Hukum
Sebagai langkah konkret, Guterres mengumumkan pengiriman Utusan Pribadi, Jean Arnault, ke kawasan tersebut untuk mengawal inisiatif perdamaian.
PBB menekankan bahwa resolusi apa pun harus berakar kuat pada hukum internasional dan Piagam PBB, termasuk penghormatan terhadap kedaulatan wilayah dan perlindungan instalasi nuklir.
Secara khusus, Guterres memberikan pesan tajam kepada para pemimpin negara yang terlibat:
- Kepada Amerika Serikat dan Israel: Mendesak penghentian segera perang yang telah memicu konsekuensi ekonomi yang menghancurkan.
- Kepada Iran: Meminta penghentian serangan terhadap negara-negara tetangga dan menghormati hak navigasi internasional.
Krisis Kemanusiaan di Perbatasan
Di saat yang sama, Dewan Keamanan juga mendengarkan laporan dari Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Jassim Albudaiwi.
Ia mengutuk serangan Iran terhadap infrastruktur sipil, termasuk bandara dan fasilitas minyak di Bahrain, Kuwait, hingga Arab Saudi.
“Negara-negara GCC tidak mencari perang. Kami mencari perdamaian, keamanan, dan stabilitas yang layak didapatkan oleh semua bangsa,” kata Albudaiwi.
Sementara itu, dampak kemanusiaan juga merembat ke Suriah dan Lebanon. Pejabat bantuan kemanusiaan PBB, Tom Fletcher, melaporkan bahwa lebih dari satu juta warga Lebanon telah mengungsi dalam hitungan minggu akibat bentrokan antara Israel dan Hizbullah.
Ia menggambarkan situasi tersebut sebagai kondisi di mana "nyawa terjungkir balik" dan infrastruktur kritis hancur total.
Guterres menutup pernyataannya dengan pengingat bagi para pemimpin dunia bahwa kekuatan untuk mengakhiri krisis ini ada di tangan mereka. "Konflik tidak berakhir dengan sendirinya.
Mereka berakhir ketika para pemimpin memilih dialog daripada penghancuran. Pilihan itu masih ada, dan harus diambil sekarang."
Editor: Redaksi TVRINews





