Emas yang biasa menjadi aset safe haven di tengah guncangan geopolitik, mengalami penurunan harga hingga 11,5% sepanjang Maret selama eskalasi perang di Timur Tengah memuncak. Penurunan bulanan ini adalah yang tercuram sejak krisis keuangan global pada Oktober 2008.
Harga emas global yang sempat mencapai harga tertingginya sepanjang masa yaitu US$5.400 per troy ons pada akhir Januari, anjlok hingga akhir Maret ditutup di level US$4.672 per troy ons. Penurunan ini salah satunya disebabkan karena harga minyak dunia yang terus melambung dan memunculkan kekhawatiran akan inflasi global. Per 31 Maret, harga minyak mentah Brent bahkan ditutup melampaui US$118 per barel.
Ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran akan inflasi ini cenderung menyebabkan bank sentral dunia menahan suku bunga acuan tinggi. Hal ini berdampak pada pergeseran minat investor ke dolar AS sebab tawaran imbal hasil obligasi dinilai lebih menarik.
“Bank sentral global akan menjadi lebih agresif, yang telah mendorong harga emas turun,” kata Kepala Makro Global Tastylive Ilya Spivak, dikutip dari Reuters, Selasa, 24 Maret.
Selain itu, sejumlah bank sentral juga menjual cadangan emas mereka demi menjaga likuiditas dan stabilisasi mata uang. Terbaru, Bank Sentral Turki menjual dan menukarkan sekitar 60 ton emas yang senilai lebih dari US$8 miliar selama dua minggu sejak AS-Israel menyerang Iran. Hal ini turut menekan harga emas global.
Pasalnya, Bank Sentral Turki adalah salah satu pembeli emas paling agresif di dunia selama sedekade terakhir. Analis Komoditas TD Securities Daniel Ghali memperkirakan adanya kecenderungan perang di Timur Tengah mendorong sebagian bank sentral dunia untuk menjual cadangan emasnya demi memenuhi kewajiban denominasi dolar AS.
“Penjualan langsung bukan hal yang mustahil, meskipun kami memperkirakan tren yang lebih luas akan menunjukkan perlambatan signifikan dalam laju akumulasi permintaan emas oleh bank sentral untuk sementara waktu,” kata Ghali, dikutip dari Bloomberg, Kamis, 26 Maret.




