MAKASSAR, KOMPAS - Setelah gempa Bitung berkekuatan Magnitudo 7,6, penanganan warga terdampak menjadi prioritas. Gempa susulan yang terjadi juga membuat masyarakat khawatir dampak lanjutannya.
“Hari ini kami monitor dan pantau perkembangan di lapangan. Sebab sampai tadi malam gempa susulan masih terus terjadi,” kata Humas Kantor Pencarian dan Pertolongan (KKP) Sulawesi Utara Nuriadin Gumeleng, dihubungi dari Makassar, Jumat (3/4/2026).
Data yang dihimpun, salah satu gempa yang cukup terasa terjadi pada Jumat, sekitar pukul 00.10 WITA. Gempa berkekuatan M 5,2 terjadi di Laut Bitung pada kedalaman 10 kilometer atau cukup dangkal. Sementara itu, hingga Kamis sore, tercatat 48 gempa susulan.
Menurut Nuriadin, pihaknya terus memastikan warga mendapatkan informasi dan penanganan yang maksimal. Pemantauan kondisi juga dilakukan dengan menyiagakan tim. Hal itu untuk berjaga-jaga jika terjadi hal yang berkelanjutan.
“Untuk operasi SAR telah selesai dengan ditemukan dan dievakuasinya satu korban jiwa. Sampai hari ini belum ada laporan korban lain. Hari ini kami juga memantau perkembangan situasi yang ditetapkan pemerintah,” tambahnya.
Gempa M 7,6 di Laut Bitung terjadi pada Kamis (2/4/2026) pagi. Selain mengguncang tiga provinsi, gempa juga menyebabkan tsunami minor di beberapa wilayah.
Berdasarkan lokasi episenter dan kedalamannya, gempa ini berjenis dangkal akibat aktivitas subduksi Laut Maluku. Hasil analisis, mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault).
Gempa dirasakan kuat dengan intensitas V-VI MMI di Kota Ternate. Akibatnya, getaran dirasakan oleh semua penduduk sehingga menyebabkan terkejut dan lari keluar, plester dinding jatuh dan cerobong asap pada pabrik rusak, serta kerusakan ringan.
Penduduk Manado turut merasakan getaran dengan intensitas IV-V MMI (Getaran dirasakan hampir semua penduduk, orang banyak terbangun). Getaran di Gorontalo Bone Bolango, Gorontalo Utara dirasakan nyata dalam rumah, seakan ada truk berlalu dengan intensitas III MMI.
Getaran dirasakan di Boalemo dan Pohuwato dengan intensitas II-III MMI (Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang).
Akibatnya, dari data sementara, gempa ini mengakibatkan satu orang meninggal dunia dan 3 orang mengalami cedera ringan. Selain itu, kerusakan juga dilaporkan terjadi pada sejumlah bangunan, meliputi enam rumah, empat gedung perkantoran, serta empat rumah ibadah.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengarahkan pimpinan pusat dan daerah untuk fokus pada keselamatan jiwa, evakuasi korban, dan pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak.
Pratikno menegaskan, pada fase awal tanggap darurat, sesuai arahan Presiden RI Prabowo Subianto, fokus utama harus diarahkan pada pencarian, penyelamatan, dan evakuasi korban secara cepat, tepat, dan terkoordinasi.
“Kecepatan menjadi kunci. Pendataan juga harus dilakukan secara akurat agar penanganan dapat berlangsung efektif. Sebagaimana arahan Bapak Presiden, pelayanan harus dilakukan secara cepat, dan penyelamatan masyarakat adalah prioritas utama,” ucap Pratikno.
Dalam rangka mendukung percepatan penanganan, Menko PMK memastikan ketersediaan dukungan anggaran melalui Dana Siap Pakai (DSP) dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang dapat segera dimanfaatkan.
Selain penanganan darurat, Menko PMK juga menekankan pentingnya penguatan sistem manajemen bencana secara berkelanjutan, mencakup evaluasi kelembagaan, peningkatan kesiapan peralatan, penguatan kapasitas sumber daya manusia, serta intensifikasi edukasi kebencanaan kepada masyarakat.





