Perilaku anak seperti memukul, mencubit, atau terlihat “galak” sering kali membuat orang tua refleks memberi label nakal. Padahal, di usia dini, terutama 1–3 tahun, anak sedang berada di fase belajar mengenali emosi sekaligus cara berkomunikasi.
Di tahap ini, mereka belum sepenuhnya mampu mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, sehingga respons yang muncul bisa berupa tindakan fisik.
Fenomena ini juga kerap terlihat di media sosial, ketika anak menunjukkan perilaku agresif yang dianggap menggemaskan sekaligus mengkhawatirkan. Namun, penting dipahami bahwa di balik perilaku tersebut, bisa jadi ada kebutuhan tumbuh kembang yang belum terpenuhi.
Penjelasan Psikolog tentang Perilaku AnakPsikolog klinis anak dan remaja, Jovita Maria Ferliana, M.Psi, menjelaskan bahwa perilaku seperti memukul atau mencubit tidak selalu berarti anak “nakal”.
Menurutnya, hal ini bisa berkaitan dengan kurangnya stimulasi proprioseptif, yaitu sistem dalam tubuh yang membantu anak mengenali posisi, gerakan, dan tekanan pada tubuhnya.
“Tapi ingat, tidak selalu soal sensorik. Bisa juga karena emosi dan komunikasi yang belum matang,” jelasnya.
Artinya, perilaku agresif pada anak bisa menjadi bentuk ekspresi dari kebutuhan yang belum terpenuhi, baik secara sensorik maupun emosional.
Tanda Anak Mungkin Kurang StimulasiBeberapa tanda yang perlu diperhatikan orang tua, antara lain:
Terjadi sering dan intens
Membahayakan diri sendiri atau orang lain
Sulit dikendalikan
Tidak menunjukkan perkembangan
Disertai keterlambatan bicara atau interaksi
Dan untuk membantu memenuhi kebutuhan stimulasi anak, Anda bisa mengajak si kecil melakukan aktivitas berikut:
Mendorong atau menarik benda
Lompat-lompat
Animal walk (gerakan meniru hewan)
Bermain bantal atau playdough
Saat anak terlihat memukul atau bersikap jahil, sebaiknya hindari langsung memarahi atau memberi label negatif. Sebagai gantinya, Anda bisa mencoba cara berikut:
Tetap tenang dan tegas
Validasi perasaan anak, misalnya: “Kamu lagi marah ya?”
Arahkan ke alternatif yang lebih aman, seperti: “Pukul bantal saja, ya”
Konsisten tanpa membentak
Pada akhirnya, memahami kebutuhan anak adalah kunci utama dalam mendampingi tumbuh kembangnya. Dengan respons yang tepat, anak bisa belajar mengekspresikan emosi dengan cara yang lebih sehat.





