FAJAR, TORAJA – Bagi Etoo Linggi Allo, merayakan penderitaan dan kebangkitan Kristus tidak cukup hanya melalui doa, melainkan juga lewat goresan kuas. Seniman muda asal Toraja ini memilih menemukan makna Jumat Agung dan Paskah di atas kanvas, menghadirkan refleksi spiritual yang mendalam melalui dua karya lukisan ikonik.
Dikerjakan selama sepekan penuh menjelang Jumat Agung yang jatuh pada hari ini, Jumat (3/4/2026), Etoo menggunakan media cat acrylic untuk menangkap esensi pengorbanan Sang Juru Selamat. Bagi alumni Arsitektur Universitas Bosowa ini, melukis sosok Kristus adalah sebuah perjalanan iman yang personal.
“Melukis Tuhan Yesus bukan sekadar memindahkan rupa ke kanvas. Ini adalah upaya menghadirkan sosok-Nya ke dalam hati kami sebagai orang Toraja,” ungkap Etoo.
Etoo menghadirkan dua perspektif yang berbeda namun saling melengkapi dalam karyanya. Lukisan pertama menonjolkan detail emosional Yesus yang mengenakan mahkota duri. Dengan palet warna kontras antara latar belakang gelap dan jubah merah yang mencolok, karya ini mengajak penikmatnya menyelami kedalaman kisah sengsara Kristus.
Lukisan kedua menampilkan ketenangan saat sosok Sang Kristus sedang berdoa dalam lingkaran cahaya cerah. Karya ini menjadi simbol harapan dan komunikasi spiritual yang intim antara manusia dan Sang Pencipta.
Tak sekadar menjadi pajangan estetis, kedua lukisan ini memiliki misi sosial dan pelayanan. Karya tersebut dilelang pada ibadah Jumat Agung di Gereja Toraja Jemaat Tallunglipu.
Seluruh hasil lelang akan disumbangkan ke kas Persekutuan Pemuda Gereja Toraja (PPGT) Jemaat Tallunglipu. Dana tersebut nantinya akan dipergunakan sepenuhnya untuk mendukung berbagai program pelayanan kepemudaan di gereja.
Melalui sapuan kuasnya, Etoo ingin menitipkan pesan kuat bagi sesama: bahwa penderitaan Kristus adalah sumber kekuatan utama. Ia meyakini bahwa dalam setiap cobaan hidup yang dialami manusia, selalu ada penyertaan Tuhan yang memberikan pengharapan baru. (edy)





