Pantau - Gejolak global akibat konflik di Timur Tengah menekan ketahanan energi Indonesia sekaligus menguji kekuatan fiskal nasional di tengah lonjakan harga minyak dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Dampak Konflik dan Tekanan EkonomiKonflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat sejak awal 2026 telah memicu disrupsi energi global, termasuk di Selat Hormuz.
Kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah Brent mendekati 120 dolar AS per barel dan menekan nilai tukar rupiah hingga kisaran Rp16.900 sampai Rp17.058 per dolar AS.
Situasi ini dinilai bukan sekadar volatilitas biasa, melainkan peringatan terhadap kerentanan struktural ekonomi Indonesia, terutama karena tingginya ketergantungan pada impor energi.
Risiko Fiskal dan Respons PemerintahPemerintah telah merespons dengan sejumlah kebijakan seperti efisiensi belanja, pembatasan mobilitas, hingga penguatan program energi.
Namun, tantangan utama terletak pada daya tahan kebijakan tersebut jika tekanan global berlangsung dalam jangka panjang.
Berdasarkan simulasi GREAT Institute, defisit fiskal masih dapat dijaga di kisaran 3,25 hingga 3,55 persen PDB jika harga minyak berada pada level moderat.
Namun, jika harga minyak meningkat hingga 105–120 dolar AS per barel, defisit berpotensi melebar menjadi 3,80 hingga 4,30 persen PDB.
Kondisi ini mencerminkan semakin sempitnya ruang fiskal dan meningkatnya tekanan terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Ketahanan energi dinilai menjadi faktor kunci karena berdampak langsung terhadap inflasi, daya beli masyarakat, serta keberlanjutan APBN.
Situasi ini menuntut respons kebijakan yang terukur dan berkelanjutan guna menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.



