Insiden longsornya Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, yang menewaskan empat orang sopir truk dan petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) menyisakan trauma bagi para pekerja di sana.
Fatan, seorang anggota PPSU dari Kelurahan Kebon Bawang yang sedang ditugaskan berjaga di lokasi tumpukan sampah tersebut, mengaku banyak rekan-rekannya, khususnya sopir truk sampah, mengalami trauma.
"Ya jadi semakin numpuk. Banyak sopir yang trauma, karena kejadian itu memakan korban," ungkap Fatan.
Selain dibayangi rasa was-was akan longsor susulan, Fatan menyebut para sopir truk juga terkuras secara fisik dan mental akibat lamanya waktu tunggu.
"Sebenarnya yang bikin trauma itu juga karena waktunya habis. Lama, sampai berhari-hari, gara-gara nunggu antrean buat pembuangan. Di sini muat penuh, tapi di sana mereka nggak bisa langsung buang, harus nunggu dulu," jelasnya.
Saat insiden mematikan itu terjadi, antrean pembuangan di Bantargebang bisa memakan waktu hingga berhari-hari bagi satu armada.
"Kemarin pas kejadian itu, sempat sampai dua hari. Kalau kondisi sudah normal, biasanya bisa langsung buang," tambahnya.
Penumpukan limbah yang terjadi di Tanjung Priok saat ini merupakan imbas langsung dari pembatasan kuota angkut pasca-longsor. Alur distribusi terhambat, sementara volume sampah harian warga terus berdatangan tanpa henti.
"Kuotanya berkurang. Utara (Jakarta Utara) dapat jatah tertentu untuk mengurangi dampak penumpukan di sana. Cuma ya imbasnya ke sini, jadi susah," keluh Fatan.
Di tengah situasi serba terbatas ini, Fatan dan petugas lainnya terpaksa memantau dan menjaga gunungan sampah di sepanjang jalan tersebut karena ketiadaan tempat penampungan alternatif.
"Kita di sini nggak punya pool cadangan lagi. Buat numpuk di Waduk Cincin benar-benar nggak bisa. Kita ikutin perintah saja. Kalau disuruh jaga, ya jaga," tuturnya.
Sebagai ujung tombak kebersihan lingkungan, Fatan hanya bisa pasrah sembari berharap krisis tata kelola sampah ini segera menemukan jalan keluar.
"Mudah-mudahan Bantargebang cepat selesai, jadi di sini bisa kembali beroperasi normal, nggak ada penumpukan sampah lagi. Biar Jakartanya lebih indah, bersih, dan sehat," tutup Fatan penuh harap.





