REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Screen time pada anak usia dini semakin meningkat seiring penggunaan gawai yang kian masif. Fenomena ini bahkan melahirkan istilah “generasi iPad” untuk menggambarkan bayi dan balita yang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan perangkat digital.
Meski waktu layar bisa membuat anak tidak rewel, para ahli mengingatkan bahwa kebiasaan ini dapat memicu berbagai masalah perkembangan. Salah satu kekhawatiran yang muncul adalah screen time dapat menyebabkan gangguan perkembangan saraf seperti autisme. Namun, apakah ini benar?
Baca Juga
Supaya Putus Cintamu Sehat, Berhentilah Mengecek Sosmed Mantan
Selamatkan Mental Anak, Siswa di Polandia Dilarang Gunakan Ponsel di Sekolah
Kemensos Batasi Penggunaan Ponsel Siswa Sekolah Rakyat, Perkuat Implementasi PP Tunas
Dokter saraf anak dari Marengo Asia Hospitals, Dr Rafat Trivedi, menyatakan bahwa screen time tidak menyebabkan autisme. Ia menjelaskan bahwa Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan kondisi perkembangan saraf yang umumnya disebabkan oleh faktor genetik, yang kemudian dipengaruhi oleh faktor lingkungan, dan sudah muncul sejak tahap awal perkembangan otak.
"Jadi screen time tidak menyebabkan autisme seperti yang dikhawatirkan," kata dr Trivedi, dilansir dari Hindustan Times, Jumat (3/4/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Namun demikian, ia menekankan bahwa paparan layar yang berlebihan, terutama pada dua hingga tiga tahun pertama kehidupan, dapat memicu keterlambatan bicara dan kesulitan dalam komunikasi sosial. Menurut dr Trivedi, kesalahpahaman sering terjadi karena salah satu ciri utama autisme adalah gangguan komunikasi sosial.
Lebih lanjut, Trivedi menjelaskan perbedaan antara keterlambatan akibat screen time dan autisme. Anak yang mengalami keterlambatan karena paparan layar umumnya akan menunjukkan perbaikan yang cepat setelah waktu layar dikurangi dan interaksi sosial ditingkatkan.
"Sebaliknya, anak dengan autisme tetap mengalami kesulitan dalam kontak mata, komunikasi sosial, serta menunjukkan perilaku berulang meskipun screen time telah dibatasi. Kondisi ini memerlukan penanganan medis lebih lanjut," jelas dia.