'Ledakan' populasi ikan sapu-sapu di sungai-sungai ibu kota, ternyata menyimpan ancaman serius bagi kesehatan. Ahli ikan dari IPB mengungkap bahwa ikan yang hidup di lingkungan tercemar berpotensi mengandung logam berat berbahaya, terutama timbal, yang dapat membahayakan manusia jika dikonsumsi.
Ahli Ikan dan Konservasi Ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Charles P. H. Simanjuntak, Ph.D., menjelaskan bahwa kondisi perairan seperti Sungai Ciliwung yang tercemar bisa membuat ikan sapu-sapu menyerap zat beracun ke dalam tubuhnya.
Akumulasi logam berat tersebut tidak hanya bertahan di jaringan ikan, tetapi juga berisiko berpindah ke manusia dan memicu berbagai gangguan kesehatan serius.
Charles memaparkan bahwa habitat ikan sapu-sapu, khususnya di kawasan hilir, kondisinya sangat memprihatinkan. Beberapa studi menunjukkan bahwa air sungai dan sedimen Sungai Ciliwung di daerah Jakarta dan sekitarnya telah terkontaminasi logam berat beracun seperti kadmium (Cd), raksa (Hg), dan timbal (Pb).
Kondisi lingkungan yang toksik ini berdampak langsung pada anatomi ikan sapu-sapu yang berdiam di sana.
"Ketiga logam berat ini juga ditemukan pada organ tubuh (insang, hati, dan daging) ikan sapu-sapu yang tertangkap di Sungai Ciliwung," jelas Charles dalam keterangan tertulis yang diterima kumparan.
Ia menambahkan bahwa ikan sapu-sapu telah terbukti mengakumulasi logam berat ini di dalam daging yang secara langsung berkorelasi dengan tingginya tingkat pencemaran di sungai.
Alih-alih mati keracunan, ikan invasif ini justru menyerap racun-racun tersebut ke dalam jaringan tubuhnya.
Bahaya laten inilah yang akan berpindah ke tubuh manusia jika ikan tersebut dijadikan lauk-pauk. Menurut Charles, akumulasi logam berat pada ikan sapu-sapu dapat menimbulkan risiko langsung bagi kesehatan manusia jika dikonsumsi terus-menerus.
Mengingat tingginya bahaya dari timbal, merkuri, dan kadmium yang mengendap pada daging ikan tersebut, Charles meminta agar ada perhatian khusus dari pemangku kebijakan.
Charles juga merekomendasikan perlunya penetapan batas aman (safety thresholds) konsumsi ikan sapu-sapu dari Sungai Ciliwung agar masyarakat dapat teredukasi dan terhindar dari paparan racun mematikan.
Ikan Invasif Penyerap TimbalCharles menjelaskan ikan sapu-sapu atau yang dikenal sebagai Amazon sailfin catfish (Pterygoplichthys pardalis) merupakan spesies ikan asing introduksi yang kini berkembang pesat di Sungai Ciliwung.
Kemampuannya bertahan hidup di perairan tercemar menjadi salah satu faktor utama ledakan populasinya. Ikan ini mampu hidup dalam kondisi ekstrem, seperti kadar oksigen terlarut yang rendah, tingkat kekeruhan tinggi, hingga kandungan amonia yang tinggi, kondisi yang justru sulit ditoleransi oleh banyak spesies ikan lain.
“Ikan sapu-sapu memiliki toleransi lingkungan yang sangat tinggi, sehingga mampu mendominasi perairan tercemar seperti Ciliwung, ketika spesies lain tidak mampu bertahan,” ujar Charles.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa Sungai Ciliwung telah terkontaminasi logam berat berbahaya seperti kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan timbal (Pb). Menariknya, alih-alih mati, ikan sapu-sapu justru mampu menyerap dan menyimpan logam-logam tersebut di dalam tubuhnya. Kemampuan bioakumulasi ini membuat logam berat terdeteksi di berbagai jaringan, termasuk daging dan organ internal.
“Ikan ini memiliki kemampuan untuk mengakumulasi dan mengisolasi logam berat di dalam tubuhnya, sehingga tetap dapat bertahan hidup meski berada di lingkungan yang sangat tercemar,” kata Charles.
Selain itu, ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies dengan kemampuan reproduksi yang sangat tinggi. Seekor betina dapat menghasilkan hingga 19.000 telur, dan mampu berkembang biak beberapa kali dalam setahun. Ditambah lagi, ikan jantan berperan aktif menjaga telur hingga menetas, sehingga tingkat kelangsungan hidup anak ikan bisa mencapai lebih dari 90 persen.
“Dengan tingkat reproduksi yang tinggi dan adanya parental care dari induk jantan, ikan sapu-sapu dapat berkembang sangat cepat dan sulit dikendalikan populasinya,” jelas Charles.
Kemampuan adaptasi ikan ini juga diperkuat oleh pola makan omnivora yang fleksibel, sehingga dapat memanfaatkan berbagai sumber makanan di perairan. Di sisi lain, tidak adanya predator alami di Sungai Ciliwung semakin mempercepat dominasi spesies ini. Berbeda dengan habitat aslinya di Sungai Amazon, di mana ikan sapu-sapu masih dikendalikan oleh predator seperti ikan, burung, hingga reptil, di Ciliwung ikan ini berkembang tanpa hambatan.
“Ketiadaan predator alami di ekosistem non-asli seperti Ciliwung membuat ikan sapu-sapu menjadi spesies invasif yang sangat sukses dan sulit dikendalikan,” pungkas Charles.





