Aku Tak Menyangka Festival Balon Udara Wonosobo Bisa Sepi

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

“Belum apa-apa ini! Jauh beda dengan yang ada di kota,” begitu kata Pak Kris, seorang tentara yang sedang bertugas mengamankan Festival Balon Udara di Desa Mangunrejo, Wonosobo. Mendengar itu, jujur saja aku cukup kaget dan bingung, tetapi aku tetap melanjutkan pembicaraan. Ah, tidak, sepertinya bukan pembicaraan karena secara teknis yang kami lakukan sebenarnya adalah berteriak kepada satu sama lain. Aku dan Pak Kris berada di tengah keramaian dengan volume sound system yang menggelegar sehingga suara kami nyaris tenggelam. Tenang saja, kami bukan sedang bertengkar, hahaha.

Beberapa jam sebelum teriakan dan keriuhan itu, perjalananku justru dimulai dengan cara yang jauh lebih tenang. Di hari ketiga lebaran, kami mudik mengunjungi Simbah Uti, Simbah Kakung, dan saudara lainnya. Sebuah tradisi kecil yang hampir tidak pernah berubah. Jalanan tidak terlalu macet dengan langit yang terang tanpa terik berlebih. Tidak kurang dari dua jam kami telah sampai. Dari kejauhan, Simbah terlihat sedang duduk di depan rumah, seolah tengah menanti kedatangan kami. How sweet!

Rumah keluarga kami bukan di kota, melainkan di sebuah desa di Kecamatan Kalikajar, Wonosobo. Suasananya tenang dengan pemandangan yang terasa akrab sejak dulu. Setiap kali kembali ke tempat ini, ingatanku seperti otomatis berjalan mundur ke masa kecil, ketika sebagian waktuku kuhabiskan di sini. Ada satu tradisi yang selalu kuingat. Setiap tahunnya, warga desa akan membuat dan menerbangkan balon udara yang berukuran cukup besar bersama-sama di lapangan atau di halaman depan masjid. Aku dan Simbah akan berdiri di antara warga yang lain dan menyaksikan bagaimana balon itu perlahan naik ke udara.

Dulu, aku memiliki seorang kerabat yang menjadi teman mainku hampir setiap harinya. Salah satu core memory-ku bersamanya adalah menerbangkan balon udara versi mini yang terbuat dari plastik. Tidak perlu jauh-jauh, kami hanya menerbangkannya dari lantai dua rumah. Dengan sabar kami menunggu balon terisi oleh asap, kemudian bersorak ramai ketika dia berhasil naik ke udara sampai hilang terbawa angin. Terkadang juga menangis karena takut dimarahi jika tiba-tiba balon itu jatuh di atas atap tetangga, hahaha. Meski sederhana, bagi diriku waktu kecil, ini luar biasa!

Banyak orang mungkin langsung teringat dengan Dieng, kebun teh, atau mi ongklok ketika membicarakan tentang Wonosobo. Tetapi, aku tebak kalau akhir-akhir ini orang pasti lebih tahu tentang Festival Balon Udara! Sebuah event yang hype dan menjadi agenda wajib ketika libur lebaran di sana. Penggemar festival ini tak hanya dari dalam daerah dan kota sekitar; pengunjung dari pulau seberang pun rela datang untuk menyaksikan acara ini. Bisa dibilang acara ini adalah atraksi wisata yang sangat potensial.

Festival Balon Udara Wonosobo ternyata menggambarkan sebuah perjalanan panjang, bahkan sejak zaman Belanda. Meski telah ada sejak era 1920-an, acara ini ternyata baru digelar dalam skala besar untuk pertama kalinya pada tahun 2005. Awalnya hanya bertempat di Alun-Alun Wonosobo; seiring waktu, acara ini disebarkan ke banyak titik, kemudian para finalis akan dikumpulkan untuk kembali berkompetisi di alun-alun.

Ekspektasiku cukup tinggi ketika keluargaku mengatakan bahwa Festival Balon di Mangunrejo besok akan sangat dipadati pengunjung, bahkan pengunjung luar kota dan mancanegara pun akan datang. Aku berpikir, “Wah, pasti akan sangat menyenangkan bisa berbincang dengan mereka tentang pengalamannya di sini.”. Kata mereka, ramainya pengunjung akan membuat lalu lintas sekitar menjadi macet sehingga kami harus datang sejak pagi buta. Tentu aku menjadi semakin antusias. I knew we would have so much fun!

Dengan estimasi bahwa lalu lintas akan padat, kami berangkat sejak pukul setengah enam pagi. Alih-alih jalan utama, melewati jalan kampung yang lebih sempit menjadi pilihan. Langit masih gelap, jalan licin bekas hujan semalam, dan udara masih dingin. Kanan-kiri dimanjakan oleh pemandangan sawah dan sungai. Suara burung dan ayam berkokok pun menjadi pelengkap.

Di tengah perjalanan itu, aku bertemu beberapa rombongan dengan tujuan yang sama. Tetapi, aku bertanya-tanya dalam hati, “Mana macetnya? Kalau jalan utama lancar, kenapa harus pilih jalan alternatif ini?” Semakin mendekati lokasi, pertanyaan itu justru semakin terasa. Tidak ada antrean panjang kendaraan, tidak ada kerumunan yang benar-benar padat seperti yang kubayangkan sebelumnya. Semuanya terasa…baik-baik saja.

Duduk di tengah tribun, aku kembali mengamati sekeliling. Beberapa orang sudah mengambil tempat duduk, beberapa pedagang sudah berkeliling di area penonton, sebagian lainnya turun ke lapangan, tetapi suasananya tidak seramai yang ada di bayanganku. Tidak sampai berdesakan, bahkan masih cukup leluasa untuk bergerak. Di situ, aku masih berpikir, mungkin sebagian pengunjung masih dalam perjalanan, jadi mari menunggu sebentar lagi.

Melihat bahwa space di lapangan masih sangat luas, aku yang tidak puas hanya duduk di pinggir lapangan, lantas memutuskan untuk turun. Aku ingin melihat lebih dekat bagaimana orang-orang mengoperasikan balon tersebut dari yang tadinya hanya gulungan menjadi sebuah balon besar. Dari membuat perapian untuk mengisi balon dengan asap, menunggu hingga terisi penuh, hingga balon berputar sebelum akhirnya diterbangkan. Ada sekitar 20 tim yang akan menerbangkan balon mereka pagi ini, aku pun mendekati salah satunya.

“Ini persiapannya butuh waktu sekitar satu bulan, Mbak.” kata Pak Puji, salah satu anggota tim balon udara Mangunrejo (MCB), mengatakan itu di sela-sela kesibukannya mempersiapkan balon yang hampir siap diterbangkan. Dari percakapan singkat itu, aku tahu bahwa balon tersebut sudah mereka kerjakan sejak sekitar satu bulan lalu. Ukurannya pun tidak kecil, panjangnya bisa mencapai 8 hingga 9 meter dan dibuat dari kertas dlancang.

Perhatianku kemudian tertuju pada gambar gurita besar berwarna biru yang menghiasi permukaannya. Aku sempat mengira itu hasil cetakan, sangat mengesankan karena ternyata gambar itu adalah hasil karya mereka sendiri. Ketika kutanya apa makna di balik gambar tersebut, ia hanya menjawab singkat, “Nggak ada makna khusus, Mbak. Motif batik kreatif aja.” Jawaban itu terdengar sederhana, mungkin memang tidak semua hal harus memiliki makna filosofis. Kadang, cukup dibuat dan dinikmati saja.

“Tiga, dua, satu. Terbangkan!”, pembawa acara menghitung mundur penerbangan balon secara serentak. Dari tengah lapangan, aku mendongakkan kepala untuk menyaksikan pemandangan itu. Puluhan balon dengan berbagai motif perlahan naik ke udara, seolah bergerak dalam mode slow motion. Mulai dari motif mozaik sederhana, batik, hingga karikatur yang rumit, semuanya memenuhi langit pagi itu. Amazing!

Di balik kemeriahannya, festival ini ternyata punya berbagai perspektif dari orang-orang yang terlibat di dalamnya. Aku mendekati dua orang panitia yang terlihat sedang mengawasi acara, namanya Kak Cika dan Kak Adis. Kata mereka, acara ini memang baru pertama kali diadakan sehingga masih dalam tahap pengembangan. Tahun ini mereka masih menguji sejauh mana festival yang diadakan di perkampungan ini mampu menarik pengunjung. Sumber pemasukannya pun masih terbatas, seperti dari persewaan tenant dan tarif parkir. Jadi, wajar saja jika suasananya belum seramai festival di kota yang sudah lebih dulu berkembang dengan lokasi yang lebih strategis.

Lain dengan pendapat panitia, masyarakat malah ‘bersyukur’ dengan kondisi ini. Tanpa harus berhadapan dengan kemacetan panjang, mereka tetap bisa menikmati Festival Balon Udara di dekat rumah. Bagi mereka, jumlah pengunjung yang lebih terkendali justru membuat acara lebih nyaman dan lebih bisa dinikmati.

Di tengah semua perbedaan itu, aku menemukan versiku sendiri. Sebuah pengalaman yang mungkin tidak sesempurna ekspektasiku di awal, tetapi justru di situlah aku melihatnya dengan lebih jelas tentang bagaimana setiap orang memaknainya dengan cara yang berbeda.

Bagi sebagian orang, mungkin ini belum seberapa. Bagi yang lain, justru sudah lebih dari cukup. Dan bagiku, pengalaman ini terasa berkesan dengan caranya sendiri. Mungkin sama seperti dulu, ketika balon kecil dari plastik sudah cukup untuk membuatku bahagia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polisi Tangkap Driver Taksi Online yang Cabuli Penumpangnya, Begini Modusnya
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
Krisis Stok BBM Shell Belum Usai, SPBU Sepi dengan Plang Harga Rp 0
• 21 jam lalueranasional.com
thumb
Video: Macron dan PM Jepang Takaichi Adu "Kamehameha"
• 10 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Usai Tersingkir di Miami Open, Iga Swiatek Gaet Eks Pelatih Rafael Nadal
• 13 jam lalumedcom.id
thumb
The SIGIT Rilis Bread & Circus: Era Baru dengan Formasi Anyar dan Sentuhan Psychedelic
• 13 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.