Penulis: M. Ramadan
TVRINews, Bintan
Desa Kelong di Kecamatan Bintan Pesisir selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung ikan terbesar di Kabupaten Bintan. Di balik melimpahnya hasil laut, terdapat geliat ekonomi kreatif yang menjadi penopang penghasilan sebagian warga.
Salah satu yang menekuni profesi ini adalah Virgo, seorang pemuda setempat yang telah bertahun-tahun merangkai bubu dari kawat dan rangka besi. Keahlian tersebut bukan sekadar hobi, melainkan sumber pendapatan yang cukup menjanjikan.
Dalam sehari, Virgo mampu merangkai 10 hingga 15 buah bubu. Dengan upah sebesar Rp50.000 per unit, penghasilan yang diperoleh tergolong cukup untuk menunjang kebutuhan hidup di tingkat desa.
“Pekerjaan ini sudah saya jalani bertahun-tahun. Meski pesanan tidak datang setiap hari, namun setiap kali ada permintaan dari para tekong, jumlahnya cukup untuk menopang kebutuhan,” ujar Virgo.
Ia menjadi langganan para nelayan bukan tanpa alasan. Selain kualitas hasil kerjanya, sikapnya yang ramah membuatnya memiliki hubungan baik dengan para tekong atau kapten kapal. Kepercayaan ini membuat usaha yang dijalaninya tetap berjalan, karena para nelayan mengandalkan bubu buatannya untuk menangkap ikan.
Fenomena ini tidak hanya dilakukan oleh Virgo. Di berbagai sudut Desa Kelong, banyak warga lain yang juga memiliki keahlian serupa. Kerajinan bubu pun berkembang menjadi sumber penghasilan alternatif di luar aktivitas melaut.
Keberadaan para pengrajin ini turut membantu menjaga stabilitas ekonomi keluarga, sekaligus memperkuat posisi Desa Kelong sebagai sentra perikanan yang mandiri, termasuk dalam penyediaan alat tangkap.
Dengan tingginya aktivitas penangkapan ikan di wilayah Bintan Pesisir, sektor kerajinan ini dinilai memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan. Melalui pembinaan yang tepat, kerajinan bubu berpeluang menjadi sektor unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara lebih luas.
Editor: Redaktur TVRINews





