Bisnis.com, BALIKPAPAN — Industri perhotelan Kalimantan Timur menghadapi tekanan berlipat pada Februari 2026. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang tercatat anjlok ke level 46,97%, atau turun 4,90 poin dari bulan sebelumnya.
Bersamaan dengan itu, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), perjalanan wisatawan nasional (wisnas), dan wisatawan nusantara (wisnus) kompak mengalami kontraksi bulanan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur Mas'ud Rifai menyatakan penurunan kinerja pariwisata terjadi di hampir semua lini.
Kunjungan wisman tercatat 800 kunjungan, merosot 8,57% secara bulanan (month-to-month/m-to-m). Sementara itu, perjalanan wisnas mencapai 3.517 perjalanan, anjlok 29,46% secara bulanan.
Adapun perjalanan wisnus menurut kabupaten/kota tujuan mencapai 1,13 juta perjalanan. Angka ini merefleksikan penurunan 17,93% dibandingkan dengan Januari 2026.
Meski begitu, kunjungan wisman justru naik 32,23% secara tahunan, dari 605 kunjungan pada Februari 2025 menjadi 800 kunjungan pada Februari 2026.
Baca Juga
- Penjualan Properti Balikpapan Lesu, Proyek IKN Belum Mampu jadi Magnet Pasar
- Pertumbuhan Ekonomi Kaltim 2025 Melambat jadi 4,53%, Bank Indonesia Ungkap Penyebabnya
- Eni Investasi US$15 Miliar Gas di Kaltim
Namun, capaian ini masih jauh dari puncak kunjungan wisman pada Desember 2025 yang mencapai 1.455 kunjungan, tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Dari sisi pintu masuk, kunjungan wisman pada Februari 2026 tercatat masuk melalui Bandara SAMS Sepinggan.
Tidak ada satupun kunjungan melalui jalur laut, baik Pelabuhan Semayang maupun Samarinda. Dominasi jalur udara ini sekaligus menegaskan ketergantungan Kaltim pada konektivitas penerbangan internasional.
Berdasarkan status kebangsaan, wisman asal Brunei Darussalam mendominasi dengan kontribusi 35,75% atau 286 kunjungan. Disusul Malaysia 15,50% (124 kunjungan), Korea Selatan 6,12% (49 kunjungan), Singapura 5,38% (43 kunjungan), dan Inggris 2,38% (19 kunjungan).
Kelompok wisman dari Asean menyumbang 75% dari total kunjungan mancanegara, diikuti Asia di luar Asean 13%, dan Eropa 7,49%.
Menariknya, beberapa kelompok kebangsaan menunjukkan pertumbuhan signifikan secara tahunan. Wisman asal Afrika melesat 100%, Asia non-Asean naik 62,50%, Oseania 50%, Eropa 39,53%, Asean 27,39%, dan Amerika 23,08%. Di sisi lain, wisman asal Timur Tengah anjlok 100 persen atau tidak tercatat sama sekali pada Februari 2026.
Wisatawan Nasional dan Nusantara TurunSejalan dengan wisman, perjalanan wisnas juga turun tajam pada Februari 2026. Jumlahnya tercatat 3.517 perjalanan, turun 29,46% dari 4.986 perjalanan pada Januari 2026. Secara tahunan, wisnas juga turun 3,33% dibandingkan dengan Februari 2025.
Seluruh perjalanan wisnas tercatat melalui Bandara SAMS Sepinggan. Sepanjang Januari–Februari 2026, jumlah perjalanan wisnas mencapai 8.503 perjalanan, naik 13,30% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 7.505 perjalanan.
Kendati mengalami kontraksi secara bulanan, capaian kumulatif dua bulan pertama tahun ini masih mencatatkan pertumbuhan positif.
Puncak perjalanan wisnas tercatat pada Juli 2025 dengan 7.225 perjalanan, atau menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Sementara itu, perjalanan wisnus menurut kabupaten/kota asal di Kalimantan Timur tercatat sebanyak 1,16 juta perjalanan pada Februari 2026, turun 19,22% dibandingkan dengan Januari 2026 yang mencapai 1,44 juta perjalanan. Secara tahunan, jumlah tersebut juga turun 4,83%.
Mas'ud menyebutkan Samarinda masih menjadi daerah asal perjalanan wisnus terbesar dengan kontribusi 25,76% atau 299.423 perjalanan, meskipun turun 19,50% dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Setelah itu, Kutai Kartanegara menyumbang 20,33% atau 236.267 perjalanan, disusul Balikpapan sebesar 19,62% atau 227.992 perjalanan.
Dari sisi pertumbuhan tahunan, Mahakam Ulu mencatat kenaikan tertinggi sebesar 67,17%, diikuti Balikpapan 12,64%, Berau 7,75%, dan Kutai Timur 0,85%.
Sebaliknya, Penajam Paser Utara turun 25,70%, Kutai Kartanegara 17,90%, Bontang 12,09%, dan Kutai Barat 3,27%.
Berdasarkan kabupaten/kota tujuan, Samarinda kembali mendominasi dengan kontribusi 25,38% dari total perjalanan wisnus selama Januari–Februari 2026. Balikpapan menyusul dengan 21,07% dan Kutai Kartanegara 20,13%.
Adapun, Penajam Paser Utara mencatat pertumbuhan kumulatif tertinggi sebesar 10,43%, disusul Berau 6,33% dan Mahakam Ulu 6,17%.
Hotel Berbintang Masih TertekanDi sisi lain, kinerja hotel berbintang di Kalimantan Timur juga melemah. TPK hotel berbintang pada Februari 2026 tercatat 46,97%, turun 4,90 poin dari 51,87% pada Januari 2026.
Secara tahunan, TPK hotel berbintang juga turun 5,81 poin dibandingkan dengan Februari 2025 yang berada di level 52,78%.
Berdasarkan klasifikasi hotel, TPK tertinggi tercatat pada hotel bintang empat sebesar 48,96%. Sementara itu, TPK terendah terjadi pada hotel bintang satu sebesar 23,29%.
Adapun, hotel bintang tiga mencatat TPK sebesar 48,61%, hotel bintang lima 44,96%, dan hotel bintang dua 39,88%.
Hampir seluruh klasifikasi hotel berbintang mengalami penurunan dibandingkan dengan bulan sebelumnya, dengan penurunan terdalam terjadi pada hotel bintang tiga yang turun 6,35 poin.
Sementara itu, TPK hotel nonbintang dan akomodasi lainnya juga turun menjadi 22,09% pada Februari 2026, dari 24,81% pada Januari 2026 atau terkoreksi 2,72 poin.
Dibandingkan dengan Februari 2025, TPK hotel nonbintang juga turun 5,15 poin.
Meski okupansi menurun, rata-rata lama menginap tamu hotel berbintang justru meningkat. Pada Februari 2026, rata-rata lama menginap tercatat 1,66 hari, naik dari 1,53 hari pada Januari 2026.
Secara tahunan, rata-rata lama menginap juga meningkat 0,07 poin dari 1,59 hari pada Februari 2025.
Tamu asing rata-rata menginap selama 2,35 hari, turun 0,23 poin dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Sementara itu, tamu nusantara menginap rata-rata 1,65 hari, naik 0,13 poin.
Secara tahunan, lama menginap tamu asing turun 0,03 poin, sedangkan tamu nusantara naik 0,07 poin.
Mas'ud mengungkapkan, dalam kurun Februari 2025 hingga Februari 2026, rata-rata lama menginap tertinggi untuk tamu nusantara tercatat pada Agustus 2025 sebesar 1,67 hari. Sementara itu, untuk tamu asing, lama menginap tertinggi terjadi pada April 2025 sebesar 2,92 hari.
Adapun, lama menginap terendah untuk kedua kategori tamu tercatat pada Maret 2025, masing-masing 1,44 hari untuk tamu nusantara dan 2,11 hari untuk tamu asing.





