Membaca Ulang Praktik Imperialisme Modern dalam Perang Iran

kumparan.com
23 jam lalu
Cover Berita

Seperti yang saya ikuti dalam artikel The New York Times berjudul “Trump Seeks to Redefine ‘Regime Change’ in Iran War” karya Edward Wong (31 Maret 2026), tampak jelas bahwa narasi pemerintah Amerika Serikat terkait “regime change” bergerak dalam ambiguitas: di satu sisi diklaim telah terjadi, di sisi lain realitas menunjukkan struktur kekuasaan Iran tetap bertahan.

Kutipan yang relevan dalam laporan itu menyebutkan bahwa yang terjadi lebih tepat adalah “pergantian orang, bukan ideologi.” Pernyataan ini menjadi pintu masuk untuk membaca fenomena tersebut dalam kerangka teori imperialisme modern—bukan lagi kolonialisme klasik yang menguasai wilayah, tetapi dominasi melalui kontrol politik, ekonomi, dan keamanan tanpa harus menduduki secara langsung.

Ambiguitas ini bukan sekadar kekacauan komunikasi, melainkan refleksi dari pergeseran strategi global: dari ambisi mengganti rezim secara total menuju upaya menundukkan rezim agar patuh.

Ambiguitas Narasi sebagai Strategi, Bukan Kekeliruan

Dalam kerangka imperialisme modern, kontradiksi pernyataan Donald Trump tidak bisa dibaca semata sebagai inkonsistensi, tetapi sebagai fleksibilitas strategis. Pernyataan yang berubah-ubah—antara “regime change telah terjadi” dan “tujuan bukan mengganti kepemimpinan”—memberi ruang manuver politik:

Dalam teori neo-imperialisme, ini dikenal sebagai discursive power: kemampuan mendefinisikan realitas sesuai kepentingan hegemonik. Bahasa menjadi instrumen kekuasaan.

Ambiguitas ini juga berfungsi menghindari jebakan legitimasi internasional. “Regime change” secara eksplisit sering dipandang ilegal atau agresif dalam hukum internasional, sementara “self-defense” atau “stabilization” lebih mudah diterima.

Pergantian Elite vs Perubahan Sistem: Kegagalan yang Disamarkan

Dalam perspektif David Harvey, imperialisme modern bergerak melalui apa yang ia sebut accumulation by dispossession—penguasaan sumber daya dan arah politik tanpa pendudukan langsung; sementara Michael Hardt dan Antonio Negri menjelaskan bahwa kekuasaan global kini bekerja dalam bentuk “Empire” yang cair, tanpa pusat tunggal, tetapi efektif mengatur negara melalui tekanan ekonomi, militer terbatas, dan legitimasi wacana.

Artikel tersebut menegaskan bahwa meskipun tokoh kunci seperti Ali Khamenei telah dieliminasi, struktur ideologis Iran tetap utuh, bahkan digantikan oleh figur seperti Mojtaba Khamenei yang memiliki garis keras serupa.

Di sinilah letak perbedaan krusial dalam studi politik:

Imperialisme klasik sering gagal memahami hal ini, sebagaimana terjadi di Irak dan Afghanistan. Penggantian pemimpin tidak otomatis menghasilkan transformasi politik.

Ketika proyek mengganti rezim yang diinginkan gagal, strategi kemudian bergeser. Bukan lagi menciptakan sistem baru, tetapi memastikan sistem lama tunduk. Inilah yang menjelaskan mengapa perang tidak dilanjutkan ke invasi darat penuh.

Pandangan Rosemary Kelanic dari Defense Priorities menegaskan bahwa perubahan rezim sejati hanya mungkin melalui pengerahan besar pasukan darat—opsi yang sangat mahal dan berisiko tinggi. Artinya, keterbatasan militer dan politik memaksa redefinisi tujuan.

Dari Decapitation ke Coercive Compliance: Wajah Baru Imperialisme

Strategi yang tampak dominan adalah decapitation strategy—menghancurkan pucuk pimpinan dengan harapan sistem runtuh atau melemah. Namun dalam praktiknya, pendekatan ini tidak menghancurkan negara, melainkan hanya mengguncang lapisan atasnya.

Dalam teori imperialisme modern, ini berkembang menjadi coercive compliance: bukan mengganti rezim, tetapi memaksa rezim untuk tunduk pada kepentingan global hegemon.

Pola ini juga terlihat di:

Logikanya sederhana namun efektif: mengontrol tanpa harus memerintah langsung.

Pernyataan Trump yang mengeklaim telah terjadi “regime change” dapat dibaca sebagai konstruksi politik untuk menutupi pergeseran strategi tersebut. Dengan mendefinisikan ulang istilah, ia tidak perlu mengirim pasukan darat dalam skala besar, tetapi tetap bisa mengeklaim kemenangan.

Dalam perspektif imperialisme modern, ini adalah bentuk efisiensi kekuasaan: dominasi dengan biaya minimal, legitimasi maksimal, dan risiko terbatas.

Fenomena ini menunjukkan bahwa imperialisme abad ke-21 tidak lagi membutuhkan pendudukan teritorial. Cukup dengan kombinasi tekanan militer terbatas, perang narasi, dan kontrol ekonomi, sebuah negara dapat dipaksa berada dalam orbit kepentingan kekuatan besar.

Kasus Iran menjadi contoh penting: kegagalan mengganti rezim tidak berarti kegagalan strategi, melainkan transformasi tujuan. Dari menghancurkan, menjadi mengendalikan, tentu, bila berhasil?


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Emas Antam dan Galeri24 Kompak Turun Jadi Rp 2,8 Juta per Gram
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Ketidakpastian Regulasi Hambat Transisi Motor Listrik
• 10 jam lalukompas.id
thumb
Lagi Tiga Pasukan UNIFIL Asal RI Jadi Korban Serangan di Lebanon, Dua Luka Serius
• 20 jam laluviva.co.id
thumb
Bawaslu Pasaman Barat Awasi Ketat Pemutakhiran Data Pemilih Triwulan I 2026 Demi Akurasi Pemilu
• 6 jam lalupantau.com
thumb
7 Kecanggihan Teknologi Jet Tempur F-15 AS yang Diklaim telah Ditembak Jatuh Iran
• 3 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.