Pengusaha Minta Relaksasi Impor Bahan Baku di Tengah Belum Usainya Perang AS vs Iran

idxchannel.com
6 jam lalu
Cover Berita

Apindo menyatakan, kelangkaan bahan baku plastik akibat konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran dirasakan betul oleh sektor strategis.

Pengusaha Minta Relaksasi Impor Bahan Baku di Tengah Belum Usainya Perang AS vs Iran. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan, kelangkaan bahan baku plastik akibat konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran dirasakan betul oleh sektor strategis seperti industri makanan dan minuman hingga otomotif.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo Bob Azam mengatakan, kelangaan bahan baku plastik tersebut berdampak pada tingkat pasokan yang tidak seimbang dengan tingkat permintaan.

Baca Juga:
Perang Iran Ganggu Pasokan, Industri Chip Korsel Amankan Stok Helium

"Kami berharap jangan sampai ada bottlenecking terhadap bahan baku dan lain sebagainya. Kami mengimbau kepada pemerintah untuk diberi relaksasi untuk bahan baku terutama yang impor. Jadi saya berharap bahwa kelangkaan bahan baku plastik ini jangan sampai mengganggu produksi," kata Bob kepada awak media, Jakarta, dikutip Jumat (3/4/2026).

Bob mewanti-wanti risiko inflasi harga atas barang dan jasa yang dihasilkan dunia usaha, jika tingkat produksi menurun akibat kelangkaan bahan baku. Meski begitu, dunia usaha untuk saat ini masih menempatkan kenaikan harga sebagai pilihan terakhir.

Baca Juga:
Inggris Sebut 40 Negara Bahas Pembukaan Kembali Selat Hormuz setelah Blokade Iran

"Biasanya kalau otomotif, kami justru mempertahankan (harga)," ujarnya.

Baca Juga:
Trump: AS Bakal Serang Iran dengan Sangat Keras dalam 2-3 Minggu ke Depan

Kalangan pengusaha, kata Bob, kini sedang mengupayakan inovasi dalam hal produksi. Diversifikasi digadang-gadang menjadi satu di antara opsi untuk menyiasati kelangkaan bahan baku. 

"Kami sih berharap akan muncul inovasi-inovasi baru di setiap kesulitan, termasuk kesulitan bahan baku yang saat ini kami hadapi," kata dia.

Bicara soal ketersediaan bahan baku, memang menjadi isu bagi dunia usaha saat perang di Timur Tengah berkecamuk. Seperti industri tekstil di sektor hulu, yang memprediksi stok bahan baku hanya cukup beberapa pekan sejak perang dimulai.

"Kalau untuk saat ini belum ada pengaruh karena stok bahan baku kita yang berasal dari Timuer Tengah yaitu MEG masih ada untuk 2-3 minggu ke depan," kata Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI Redma Gita Wirawasta kepada IDX Channel, 10 Maret 2026.

Di awal masa perang AS-Israel dan Iran, kenaikan harga bahan baku dan tingkat ekspor menjadi isu. Hal ini tak terlepas dari ketidakpastian keamanan kawasan yang memengaruhi jalur perdagangan.

"Harga PX, PTA dan MEG di pasar spot sudah naik, PX sudah di atas USD1.000/ton, PTA sudah di atas 750 dan MEG sudah di atas 600. Untuk ekspor saat ini terkendala biaya logistik khusus ya yang ke Timteng dan Eropa yang naik sekitar 25 persen karena ditambahkan biaya risiko," ujar Redma.

(Dhera Arizona)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Persidangan Panas di PN Padang: Saksi Bantah BAP, Kuasa Hukum Soroti Kejanggalan
• 11 jam lalurealita.co
thumb
Divonis 15 Tahun Penjara, Anak Riza Chalid Adukan Perkara Korupsi Tata Kelola Minyak ke Komisi III DPR
• 20 jam laluokezone.com
thumb
Program MBG Dinilai Perlu Terapkan Sistem Rantai Dingin sebagai Standar Teknis
• 15 jam laluviva.co.id
thumb
Jualan Elon Musk Ga Laku, 50.000 Mobil Tesla Nganggur Ga Ada yang Beli
• 11 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Eks Wali Kota New York Sebut Raja Charles III Kemungkinan Seorang Muslim
• 20 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.