Kepala Staf AD AS Dicopot Usai Tak Sejalan dengan Trump

viva.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

VIVA –Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth meminta Kepala Staf Angkatan Darat AS Jenderal Randy A. George untuk segera mundur dari jabatannya, di tengah perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Dalam pernyataan yang diunggah di platform X pada Kamis malam, juru bicara Pentagon Sean Parnell mengatakan bahwa George akan pensiun dari jabatannya, namun tidak menjelaskan alasan di balik keputusan mendadak tersebut, terlebih di tengah situasi perang seperti saat ini. 

Baca Juga :
AS Usir Diplomat Iran di PBB pada Desember dengan Alasan Keamanan Nasional
Iran Tak Gentar Tutup Selat Hormuz, Analis Sebut Pemulihan Krisis Energi Belangsung Lama

Ia menambahkan bahwa Departemen Pertahanan berterima kasih atas puluhan tahun pengabdian Jenderal George kepada negara.

Pencopotan Kepala Staf AD, yang pertama kali dilaporkan oleh CBS, menjadi bagian terbaru dari rangkaian pemecatan pejabat tinggi militer AS sejak Hegseth menjabat pada Januari lalu.

CBS mengutip seorang sumber yang menyebutkan bahwa langkah itu diambil karena Hegseth ingin sosok yang bisa menjalankan visinya dan visi Presiden Donald Trump untuk Angkatan Darat.

Melansir laman Al Jazeerah, Sabtu 4 April 2026, jenderal berusia 61 tahun itu diangkat ke posisi tersebut pada 2023 oleh Presiden saat itu, Joe Biden. Ia pernah bertugas di berbagai penempatan di luar negeri, termasuk dalam perang di Irak dan Afghanistan. 

Selama menjabat sebagai kepala staf, ia dikenal mendorong efisiensi di tubuh Angkatan Darat serta memperkenalkan teknologi baru, seperti drone pencegat rudal berbiaya rendah dan sistem penargetan berbasis kecerdasan buatan.

Dalam laporan The New York Times, menyebut pencopotan ini berkaitan dengan ketegangan antara George dan Hegseth terkait keputusan Hegseth yang menyoroti dan menghambat promosi empat perwira dari daftar berisi 29 personel.

Sebagian besar nama dalam daftar tersebut adalah pria kulit putih, sementara dua perwira yang dicoret Hegseth merupakan orang kulit hitam dan dua lainnya perempuan, menurut laporan itu yang mengutip pejabat militer anonim.

Keputusan Hegseth ini memicu pertanyaan di kalangan perwira senior, apakah ada bias ras atau gender dalam proses tersebut. Namun, ketika George meminta pertemuan dengan Menteri Pertahanan dua minggu lalu untuk membahas hal ini, Hegseth dilaporkan menolak.

Baca Juga :
Rusia, China dan Prancis Tolak Resolusi DK PBB yang Izinkan Gunakan Kekuatan untuk Lintasi Selat Hormuz
PBB Catat Mulai Lebih Banyak Kapal Melintas Selat Hormuz, tapi Belum Normal
Korsel dan Prancis Sepakat Pastikan Keamanan Jalur di Selat Hormuz

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Peziarah Memadati Larantuka, Semana Santa 2026 Jadi Magnet Mancanegara
• 19 jam lalukompas.id
thumb
Tumpukan Sampah di Rusun Angke Jakbar Sempat Setinggi Atap Rumah Warga
• 13 jam lalukompas.com
thumb
Pos Indonesia dan Garuda Indonesia Lepas 15 Ton Tahap Awal ke Jeddah, Kolaborasi Kirim Logistik Makanan Jemaah Haji 2026
• 21 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Dude Harlino dan Alyssa Soebandono Dicecar 50 Pertanyaan di Bareskrim, Apa Hasilnya?
• 18 jam laludisway.id
thumb
Trisula (TRIS) Cetak Kenaikan Laba 33 Persen Sepanjang 2025
• 8 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.