PERHIMPUNAN Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menyoroti fenomena maraknya misinformasi di media sosial sebagai pemicu utama merosotnya angka cakupan vaksinasi campak di Indonesia. Informasi yang tidak akurat tersebut dinilai lebih berbahaya daripada gerakan antivaksin itu sendiri karena mampu menciptakan keraguan massal di tengah masyarakat.
Ketua Satuan Tugas Imunisasi Dewasa PAPDI, dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD, K-A.I, FINASIM, menjelaskan bahwa meskipun kelompok antivaksin secara jumlah tidak dominan, narasi yang mereka sebarkan sering kali menjadi viral. Hal inilah yang memicu kebingungan bagi masyarakat awam.
“Antivaksin itu tidak banyak, tetapi karena sangat viral, akhirnya membuat masyarakat bingung dan ragu,” ujar Sukamto, dikutip Sabtu (4/4).
Baca juga : Yuk Jaga Kesehatan Mental dengan Cara Hindari Kabar tak Berfaedah
Penurunan Signifikan Cakupan ImunisasiDampak dari keraguan masyarakat ini terlihat nyata pada data statistik nasional. Berdasarkan data PAPDI, terjadi penurunan persentase cakupan imunisasi campak-rubella yang cukup signifikan pada 2025 dibandingkan periode sebelumnya. Angka ini kini berada di bawah ambang batas aman yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Kategori Imunisasi Cakupan Sebelumnya Cakupan Tahun 2025 Target WHO Dosis Pertama 92% 82% 95% Dosis Kedua 82,3% 77,6%Menurut Sukamto, kegagalan mencapai target 95% untuk kekebalan kelompok (herd immunity) akan membuka celah lebar bagi virus untuk menyebar.
"Ketika cakupan vaksin turun, virus akan lebih mudah menemukan orang yang belum imun, sehingga penularan menjadi lebih cepat," tambahnya.
Baca juga : PAPDI: Orang Dewasa Berisiko Tertular Campak, Pentingnya Imunisasi Ulang
Faktor Pendukung dan Solusi StrategisSelain faktor misinformasi, PAPDI mencatat adanya faktor eksternal lain seperti gangguan program imunisasi rutin selama pandemi COVID-19 serta tingginya mobilitas penduduk yang mempercepat transmisi kasus.
Sebagai langkah mitigasi, PAPDI menekankan pentingnya peran tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi langsung. Merujuk pada studi dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), komunikasi yang efektif antara dokter dan pasien terbukti mampu meningkatkan keberhasilan vaksinasi hingga lebih dari 70%.
- Penguatan edukasi publik secara masif untuk menangkal narasi menyesatkan.
- Kolaborasi lintas sektor dengan tokoh masyarakat dan pemuka agama.
- Penyampaian informasi medis yang akurat secara berkelanjutan agar kepercayaan masyarakat kembali pulih.
“Informasi yang benar harus terus disampaikan agar masyarakat tidak terpengaruh narasi yang menyesatkan,” pungkas Sukamto. (Ant/Z-1)





