Lili, berulang kali mengarahkan kamera handphone nya ke arah Monas. Ia beberapa kali pindah posisi, untuk mendapatkan sudut terbaik dari mercusuar yang dibangun era Soekarno itu.
Ini adalah kali pertama Lili ke Monas, sebagai warga Malaysia, ia kagum dengan kemegahannya.
"Bangunan Monasnya cantik," kata Lili, Sabtu (4/4).
Ia memang menyempatkan diri datang ke Monas di waktu yang singkat ini. Pada Jumat (3/4) ia datang, ke Monas hari ini, dan besok pulang ke Malaysia.
Agenda ke Monas sebenarnya tak masuk rencanannya. Tapi, ia penasaran sebab konten tentang Monas muncul di TikTok nya. Sayangnya, karena waktu yang terbatas, Lili hanya menikmati suasana di area luar Monas.
“Datang ke Monas karena lihat rekomendasi di TikTok. Sebenarnya pengin tahu sejarahnya juga, tapi karena buru-buru mau pulang, jadi cuma foto-foto di luar saja,” ujarnya.
Tak hanya itu, pengalaman berinteraksi dengan warga Jakarta juga meninggalkan kesan mendalam.
"Orang-orangnya baik banget. Semua yang saya temui ramah,” katanya.
Ternyata, tak hanya Lili warga Malaysia yang ada di sekitar Monas hari ini. Ada pula Umar, wisatawan asal Johor, yang memang sudah merencanakan kunjungan ke Monas sebagai bagian dari weekend trip-nya di Jakarta.
Bagi Umar, Monas bukan sekadar tempat wisata, melainkan simbol nasionalisme Indonesia yang ingin ia pahami lebih jauh.
Umar datang pakai pakaian Melayu saat berkunjung, sebagai bagian dari pengalaman budaya yang ingin ia abadikan.
“Sebab ini kan tugu nasionalisme. Saya mau tahu juga tentang perjuangan orang-orang Indonesia,” ujarnya.
Setelah dari Monas, Umar berencana melanjutkan perjalanan ke Masjid Istiqlal, lalu mengunjungi kawasan Kota Tua Jakarta pada sore hari. Ia juga menyusun rencana kunjungan padat, termasuk rencana ke Bandung keesokan harinya.
Selama di Jakarta, Umar mengaku melihat sisi modern kota yang berbeda dibandingkan kota-kota lain di Indonesia yang pernah ia kunjungi, seperti Surabaya, Lombok, Batam, hingga Malang.
“Di Jakarta memang macet, tapi lebih modern dan maju. Banyak bangunan tinggi. Kalau di Malang lebih ke heritage, di Bromo lebih ke alam,” jelasnya.
Meski belum mencoba transportasi umum, Umar menilai mobilitas di Jakarta cukup mudah dengan layanan transportasi daring.





