Teheran Membara! Iran Tolak Mentah-Mentah Proposal Gencatan Senjata Trump Usai Hancurkan Depot Militer AS

harianfajar
3 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, TEHERAN – Upaya diplomatik Washington untuk meredam api peperangan di Timur Tengah menemui jalan buntu yang dingin. Iran dilaporkan telah menolak mentah-mentah proposal gencatan senjata selama 48 jam yang diajukan oleh pemerintahan Amerika Serikat di bawah Donald Trump. Penolakan ini menjadi sinyal kuat bahwa Teheran belum siap menurunkan tensi serangan di tengah krisis keamanan kawasan yang kian memburuk.

Melansir laporan kantor berita semi-resmi Fars News Agency pada Jumat (3/4/2026), tawaran gencatan senjata tersebut disodorkan kepada Teheran melalui perantara negara “sahabat” pada Kamis kemarin. Namun, alih-alih menyambut meja perundingan, Iran justru memilih menjawabnya lewat dentuman meriam di medan tempur.

Serangan di Pulau Bubiyan

Upaya Amerika Serikat untuk mengamankan gencatan senjata disinyalir merupakan langkah darurat setelah militer Iran berhasil menargetkan “depot pasukan militer” AS di Pulau Bubiyan, wilayah strategis yang berada di Kuwait. Serangan presisi tersebut tampaknya menjadi titik balik yang membuat Washington mulai mengalkulasi ulang risiko konfrontasi langsung.

Laporan Fars News menyebutkan bahwa proposal damai ini muncul setelah Washington menyadari adanya “kesalahan perhitungan” terhadap kemampuan militer Iran yang sebenarnya.

“Penilaian yang beredar menyebut proposal tersebut diajukan setelah krisis di kawasan meningkat dan muncul ‘masalah serius’ bagi pasukan AS akibat ‘kesalahan perhitungan’ Washington terhadap kemampuan militer Iran,” tulis laporan tersebut mengutip sumber internal.

Menariknya, Teheran tidak memberikan jawaban diplomatik secara formal. Respons mereka justru datang melalui aksi nyata.

“Laporan itu juga menyebut bahwa respons Iran terhadap tawaran tersebut tidak diberikan secara tertulis, melainkan melalui kelanjutan serangan di medan tempur,” tegas sumber tersebut.

Akar Konflik

Eskalasi mengerikan ini bukanlah tanpa sebab. Perang terbuka ini meletus hebat sejak 28 Februari 2026, ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan operasi militer gabungan besar-besaran ke jantung pertahanan Iran.

Serangan udara tersebut menjadi peristiwa paling berdarah dalam sejarah modern Iran karena menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Tak hanya sang pemimpin tertinggi, sejumlah komandan militer senior dan warga sipil juga turut menjadi korban dalam agresi tersebut.

Rudal dan Drone Hujani Aset AS

Sebagai bentuk sumpah serapah atas kematian pemimpin mereka, Iran melancarkan gelombang balasan berupa ribuan rudal dan drone bunuh diri yang menargetkan wilayah Israel serta instalasi militer Amerika Serikat di seantero Timur Tengah.

Kini, dengan penolakan terhadap ajakan gencatan senjata dari Trump, kawasan tersebut berada di ambang perang total yang lebih luas. Dunia kini menanti, apakah diplomasi masih memiliki ruang, ataukah Timur Tengah akan terus tenggelam dalam hujan rudal yang tak kunjung usai. (*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kristal dalam Parasit Malaria Ternyata "Nanomotor" yang Terus Bergerak
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Reformasi Kejaksaan dan Panggung Sidang yang Kehilangan Martabat
• 2 jam lalukompas.com
thumb
PSG kalahkan Toulouse dalam lanjutan pekan ke 26 Ligue 1
• 5 jam lalutvrinews.com
thumb
Pertamina Sulawesi Jamin Stok BBM Maros Aman, Distribusi Terus Berjalan
• 6 jam laluterkini.id
thumb
Tim Gabungan Tangkap Perampok Gerai BRI Link di Jalan Veteran Palu
• 21 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.